tata penulisan karya tulis

•November 5, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

berikut tata cara penulisan karya tulis:
file 1: TATA PENULISAN
file 2: Welcome 2 The Nu Environment

Resensi Hush, Hush

•April 15, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Data Novel
Hush, Hush
Penulis Becca Fitzpatrick
Kategori: Novel
ISBN: 978-602-8224-65-9
Ukuran: 14×21 cm
Halaman: 488 halaman

Novel ini cukup menarik untuk dibaca hingga akhir. Gejolak asmara dan horor menjadi suasana yang dominan. Percampuran dari kedua suasana tersebut menjadi menarik disetiap lembar ceritanya. Menggugah rasa ingin tahu pembaca untuk membalik halamannya hingga akhir.
Berawal dari kejadian mencekam yang dialami Nora saat perjalanan pulang menuju kerumahnya. Kejadian yang begitu cepat sehingga seakan Nora bermimpi dan saat dia memutuskan untuk kerumah sahabatnya Vee dan menceritakannya, Vee pun tak percaya. Mungkinkah ada yang ingin menyakiti Nora? Atau membunuhnya? Sesampai di rumah, Nora masih berpikir, mengingat saat-saat mencekam yang ia alami. Ia berusaha mengingat detail kejadian hingga ia tertidur.
Nora bertekad untuk menyelidiki hal-hal yang terkait dengan kejadian yang ia alami malam itu. Sekolahnya, itu adalah kemungkinan tempat pertama yang ia selidiki. Berturut kejadian aneh ia alami, bersamaan dengan hadirnya sesosok pemuda, Patch, anak baru di kelasnya. Kehadiran pemuda tersebut serasa diperuntukkan bagi Nora karena sampai tempat duduk pun mereka bersebelahan.
Tatapan Patch tak mampu menahan gejolak hati seorang Nora Grey. Meskipun sahabatnya sendiri, Vee telah berusaha mengenalkannya dengan berbagai pria di sekolahnya. Patch sepertinya tak pernah hilang dari benak Nora. Keingintahuannya semakin besar terhadap Patch yang selalu memberikan kejutan terhadap hidupnya akhir-akhir ini.
Entah darimana datangnya makhluk tampan ini, sehingga terus membuat Nora tak henti berpikir akan Patch. Kemunculan Patch seakan mengiringi kehidupan menyeramkan yang Nora alami beberapa waktu ini. Semakin sering hal-hal menakutkan terjadi padanya, semakin ia sering menjumpai Patch. Mungkinkah Patch malaikat pengiringnya? Seakan Patch selalu hadir dalam setiap kejadian hidupnya.
Penelitian Nora akan keberadaan Patch semakin membuatnya gelisah. Kenyataan yang ia temukan dan jawaban atas segala pertanyaan yang selama ini tersimpan di kepalanya dimana tidak ada orang yang bisa percaya padanya atas apa yang ia alami membuatnya harus memilih. Hidup atau perasaannya yang berujung pada kematian?
Perjalanannya dari klub dimana Patch sering berada di sana hingga ke kota, membuatnya merasa seakan ada seseorang yang mengawasi dan membunuhnya. Ya…di suatu perjalanannya menyelidiki kejadian yang ia alami, ia kembali mengalami kejadian yang mencekam. Seseorang mengikutinya, dan sepertinya hidupnya tertolong oleh seorang pemulung yang meminta mantelnya. Karena dengan begitu ia luput dari maut yang ternyata dialami si pemulung. Ternyata benar ada yang ingin membunuhnya. Ketakutan membuatnya mencoba menghubungi Patch. Entah mengapa, Patch yang ada dalam pikirannya saat itu setelah ia gagal untuk menghubungi Vee.
Bukti-bukti dari kejadian yang ia temukan membawa Nora kembali ke sekolahnya malam itu. Suasana gelap menyelimuti sekolah malam itu. Ia bersama Patch mencoba mencari Vee. Namun, apa yang ia dan Patch temukan? Ia berada di sebuah pertempuran maut. Ia masih belum bisa percaya akan akhir dari fakta yang ia temukan akan kejadian mencekam yang selama ini ia temukan. Patchkah orang yang menjadi penyebab semua ini? Keputusan harus segera ia ambil untuk hidupnya.
Tak bisa dipercaya bahwa Nora adalah seorang Nephilim. Makhluk manusia separuh malaikat yang menurun dari ayahnya. Berabad-abad lamanya pertempuran telah terjadi diantara Nephilim dan malaikat murni. Pertempuran yang tidak bisa dihindarkan, dan mungkin itu pula yang terjadi pada ayahnya. Dan sekarang tiba giliran Nora untuk menentukan, siapakah diantara mereka yang pantas hidup dan mati?
Ditulis oleh Cahyani TS

Manajemen itu Ilmu atau Seni … ???

•Februari 15, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Manajemen merupakan suatu ilmu dan seni, mengapa disebut demikian??…. sebab antara keduanya tidak bisa dipisahkan.

Manajemen sebagai suatu ilmu pengetahuan, karena telah dipelajari sejak lama, dapat dipelajari oleh siapa saja, dan telah diorganisasikan menjadi suatu teori. Hal ini dikarenakan didalamnya menjelaskan tentang gejala-gejala manajemen, gejala-gejala ini lalu diteliti dengan menggunakan metode ilmiah yang dirumuskan dalam bentuk prinsip-prinsip yang diujudkan dalam bentuk suatu teori. Kadang-kadang hidup harus ada aturan. Ilmu manajemen pendekatannya merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang disistemisasi, dikumpulkan dan diterima kebenarannya. Soalnya hal ini dibuktikan dengan adanya metode ilmiah yang dapat digunakan dalam setiap penyelesaian masalah dalam manajemen. Metode ilmiah pada hakikatnya meliputi urutan kegiatan :

1.

Mengetahui adanya persoalan.

2. Mendefinisikan persoalan.
3. Mengumpulkan fakta, data dan informasi.
4. Menyusun alternatif penyelesaian.
5. Mengambil keputusan dengan memilih salah satu alternatif penyelesaian.
6. Melaksanakan keputusan serta tindak lanjut.

Sedang manajemen sebagai suatu seni, disini memandang bahwa di dalam mencapai suatu tujuan diperlukan kerja sama dengan orang lain, nah bagaimana cara memerintahkan pada orang lain agar mau bekerja sama. Hal ini disebabkan oleh kepemiminan memerlukan kharisma, stabilitas emosi, kewibawaan, kejujuran, kemampuan menjalin hubungan antaramanusia yang semuanya itu banyak ditentukan oleh bakat seseorang dan aga susah untuk dipelajari..Pada hakekatnya kegiatan manusia pada umumnya adalah managing ( mengatur ) untuk mengatur disini diperlukan suatu seni, bagaimana orang lain memerlukan pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama.

Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuna ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Karenanya, manajemen dapat diartikan sebagai ilmu dan seni tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien.

Manager itu dididik atau dilahirkan …. ???

Manajer yang dididik

Setiap orang bisa menjadi apa yang ia inginkan jika ia mau berusaha. Mungkin ada yang bilang, jika ingin menjadi sesuatu, ia harus punya bakat dibidang yang ia inginkan. Namun, ketika dilihat pada nyatanya hal itu tidak sepenuhnya benar, banyak orang yang bisa menjadi yang ia inginkan tanpa harus punya bakat dibidang tersebut. Hal yang terpenting untuk dapat mencapainya adalah terlebih dahulu tenrukan niat dan bulatkan kemauan. Sama halnya dengan seorang manager, seseorang yang tidak punya bakat untuk menjadi seorang manager bisa saja menjadi seorang manager jika dididik untuk menjadi seorang manager. Jiwa kepemimpinannya pun akan tumbuh dengan sendirinya seiring didikan tersebut.

Pada era global dan otonomi daerah sekarang ini semua bidang, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk juga pendidikan dituntut untuk menigkatkan profesionalisme, mengingat tingkat persaingan antarnegara dan antardaerah semakin kompetetif.
Pada sektor pendidikan, setiap penyelenggara pendidikan dituntut untuk selalu meningkatkan kinerjanya sehingga dapat mewujudkan manusia terdidik (educated human beings) yang mempunyai life skills yang berkualitas tinggi. Membentuk manusia yang terdidik bukanlah suatu hal mudah. Di sinilah diperlukannya kesinergian dari fungsi-fungsi manajemen yang ditata secara kreatif dan profesional. Begitu pula seorang manager, tidak hanya diperlukan bakat tetapi juga pendidikan agar kualitas manager tersebut dapat meningkat.

Manajer dilahirkan

Seorang manajer memiliki tanggung jawab yang amat besar terhadap kelangsungan hidup suatu perusahaan. Oleh karena itu,suatu perusahaan harus meiliki manajemen dan manajer yang bertanggung jawab agar perusahaan berjalan dengan efektif dan efisien. Manajer di lahirkan untuk berkembang dalam suatu bidang atau banyak bidang yang mengatur manajemen perusahaan. Namun ada tanggapan bahwa manajer bukan dilahirkan melainkan dididik untuk menjadikan kepribadian manajemen yang baik.

Fungsi manajer adalah lebih sebagai peneliti dan sekaligus perancang ketimbang hanya sebagai penyedia. Dalam hal ini manajer harus mendorong para karyawan untuk menciptakan gagasan baru, sekecil apapun, dan mengkomunikasikan gagasan-gagasan tersebut ke karyawan lain. Selain itu hendaknya manajer mendorong karyawan untuk mengerti keseluruhan pekerjaan dan permasalahannya, membangun visi kolektif dan bekerja bersama mencapai tujuan perusahaan.

http://m4sr1p4h.ngeblogs.com

Seni, Muri, dan Lain-lain

•Februari 15, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tidak bisa dipungkiri, masyarakat Aceh tentu berbangga atas penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri) kepada seniman tutur Aceh Muda Belia yang berhasil memecahkan rekor membawa hikayat selama 26 jam beberapa waktu lalu. Apalagi, ini penghargaan pertama yang diraih oleh pelaku seni di Aceh. Penghargaan itu sekaligus penegasan bahwa pelaku seni Aceh mampu menunjukkan diri, tak hanya di Aceh, juga di luar Aceh.

Tapi, tentu pula, masyarakat Aceh, termasuk pelaku seni beserta Dewan Kesenian Aceh dan Dewan Kesenian Banda Aceh yang memfasilitasi pentas tersebut, tidak terlalu lama larut dalam rasa bangga itu. Ini adalah awal untuk mencetak keberhasilan berikutnya. Saatnya kini kembali untuk bekerja untuk menghasilkan karya-karya kreatif (bagi pelaku seni) dan mendukung tersosialisasinya hasil-hasil karya kreatif itu.

Selama ini, kerja kreatif dan promosi hasil kerja kreatif itu tidak berjalan berbarengan dan saling mendukung. Seniman lebih banyak berjalan sendiri. Sementara kerja-kerja promosi nyaris tidak terjadi, termasuk oleh lembaga-lembaga yang diharapkan bisa memikirkan dan mewujudkan hal ini semacam Dewan Kesenian maupun pihak pemerintah. Promosi karya kreatif yang dilakukan masih bersifat sporadis, belum menjadi agenda yang terencana dan terarah.

Pelaku-pelaku seni Aceh, terutama pelaku seni tradisi, baru berkesempatan tampil jika ada acara-acara rutin seperti Pekan Kebudayaan Aceh. Sangat sedikit dari mereka yang bisa menunjukkan kebolehan dalam forum-forum lain, apalagi di luar Aceh. Pentas-pentas seni di luar Aceh, termasuk di luar negeri, kerap diisi oleh sanggar-sanggar tertentu. Karya-karya yang kerap dibawakan ke luar Aceh juga sering yang itu-itu saja.

Padahal, di Aceh begitu banyak karya seni, terbentang dari Sabang sampai Tamiang. Tambah lagi, di Aceh tidak ada lembaga yang memang secara khusus memfokuskan perhatian pada menggali dan mengangkat kembali karya-karya seni tradisi ini. Lembaga-lembaga kesenian yang ada, termasuk bidang-bidang kerja yang menangani seni di instansi pemerintah, belum mampu memberi perhatian yang cukup untuk masalah ini.

Masalah ini sangat urgen. Jika tidak ditangani dengan baik dan lebih dini, karya-karya seni tradisi secara perlahan dan pasti akan hilang percuma. Sebab, pelaku-pelaku seni tradisi yang ada sekarang sebagian sudah tua, bahkan uzur. Sementara penerusnya sangat sedikit. Itu ditambah lagi aprioritas kaum muda, yang lebih bangga mengusung budaya modern — sebagian akibat langsung dari serbuan modernitas. Maka, lengkaplah kesunyian yang dihadapi oleh karya-karya seni tradisi.

Kondisi seperti ini sangat mencemaskan. Masyarakat Aceh masa depan boleh jadi betul-betul akan menghadapi kenyataan pahit: kehilangan identitas keacehannya. Anak-anak Aceh masa depan tidak mengenal seni dan budaya kakek-neneknya. Sebab, seni adalah salah satu identitas lokal, yang harusnya tetap melekat dan terpelihara dengan baik. Salah satu keragaman dan kekayaan unik yang dimiliki sebuah daerah atau teritorial adalah karya seni. Ini menjadi pembeda antara satu daerah dengan daerah lain.

Maka itu, event-event yang mengangkat seni tradisi menjadi sangat penting. Pentas-pentas yang mendorong orang untuk memberi penghargaan tertentu seperti Muri perlu digalakkan. Mungkin ke depan ada lagi yang memfasilitasi pentas didong 100 jam misalnya, pentas rapa’i tujuh hari tujuh malam, atau pentas seni-seni lain yang bisa mencatat rekor tertentu. Ini akan menjadi cara yang efektif untuk mempromosikan karya seni.

Maka itu, tentulah yang mesti diangkat untuk mencapai rekor-rekor semacam ini adalah karya-karya seni yang belum dikenal secara luas di luar Aceh, bukan jenis seni yang sudah dikenal atau yang sudah sering ditampilkan. Oleh karena itu, seharusnya memang ada sebuah tim khusus yang dibentuk untuk keperluan ini. Mereka bertugas menginventarisir, menggali, dan kemudian mempromosikan karya-karya seni tradisi itu dengan berbagai cara, termasuk mengikutkan dalam diskusi, pameran, pentas eksebisi, ajang lomba, penghargaan, termasuk semacam Muri.

Memang, penghargaan seperti Muri tidak berorientasi pada kualitas. Tapi lebih pada semangat sekaligus daya tahan seseorang untuk terus melakukan kerja tertentu dalam waktu tertentu secara terus-menerus. Termasuk dalam hal ini kerja kreatif. Dengan kata lain, Muri sebetulnya lebih berorientasi pada kuantitas, pada angka-angka, bukan pada isi dan substansi. Untuk pengembangan dan peningkatan kualitas berkesenian rekor semacam ini memang tidak berperan besar. Tapi untuk kebutuhan promosi seni, rekor semacam ini sangat penting.

Tentu saja, promosi juga perlu diimbangi dengan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas. Memperbanyak workshop, pelatihan, pentas-pentas dan lomba-lomba, adalah penting untuk mendukung pengembangan kualitas ini. Termasuk, memberi beasiswa kepada para seniman untuk belajar di lembaga-lembaga pendidikan seni penting sesuai bidangnya, dan juga mempercepat pembentukan perguruan tinggi kesenian di Aceh.

Beasiswa seni, bukan hanya akan membuat seniman itu tambah profesional, juga akan membentangkan jaringan seni yang lebih luas dengan dunia luar. Jadi, dengan begitu, paling tidak, ada dua hal yang bisa terengkuh sekaligus sekali mendayung perahu: meningkatkan kapasitas, kualitas, dan profesionalitas seniman, sekaligus ikut membuka jalan untuk mempromosikan seni yang ditekuninya.

Misalnya, seorang seniman diberi beasiswa untuk belajar sastra di Australia, secara otomatis dan alamiah ia akan ikut memperkenalkan seni Aceh, termasuk bidang yang digelutinya, kepada publik di sana. Begitu pula jika seniman-seniman lain dikirim belajar ke berbagai belahan dunia, ia akan secara alamiah memperkenalkan dan mempromosikan seni Aceh, termasuk bidang yang ditekuninya, ke tempat ia belajar itu.

Ini promosi yang relatif murah, karena dilakukan terus menerus selama masa ia belajar. Ini akan lebih efektif dibandingkan dengan pentas-pentas eksebisi, yang biasanya paling lama pentasnya dua-tiga hari. Persentuhannya dengan banyak orang, termasuk pelaku-pelaku, profesional dan akademikus seni di tempatnya belajar juga akan memberi nilai tambah untuk promosi ini. Dan, pada akhir tugas belajarnya, ia akan menulis atau mementaskan karya akhir tentang seni yang digelutinya.

Sementara dengan mempercepat pembentukan perguruan tinggi kesenian di Aceh akan membuat seni-seni tradiri khas Aceh bisa dipelajari secara lebih luas dan massal, tidak hanya oleh anak-anak Aceh, juga oleh orang dari luar Aceh. Terpenting dicatat, di perguruan tinggi seni itu ada jurusan seni tradisi Aceh, selain seni-seni moderen. Kalau di Universitas Indonesia ada jurusan Sastra Jawa, di perguruan tinggi seni di Aceh tentu harus ada Sastra Aceh dan Seni Aceh.

Dengan demikian, orang-orang yang berminat untuk belajar sastra Aceh atau seni Aceh bisa datang ke perguruan tinggi itu. Merujuk dari pengalaman UI mengelola Jurusan sastra Jawa, yang belajar di sana tidak hanya orang Jawa, juga mahasiswa non Jawa. Jadi, bukan mustahil kalau orang dari berbagai belahan dunia bakal tertarik belajar seni atau sastra Aceh. Apalagi, nama Aceh kini telah mendunia, yang tentu saja membuat orang penasaran untuk mengetahuinya lebih lanjut, termasuk mempelajari budayanya.

Jadi, pengembangan seni/kebudayaan Aceh, memang perlu dilakukan dengan berbagai cara dan lini. Terpenting, sekali lagi, bagaimana mengintegrasikan semua itu dalam sebuah konsep yang jelas dan terarah, dengan rencana kerja yang rill dan terukur, dengan dukungan dan peran penuh dari semua pihak, terutama pemerintah daerah. ***

Mustafa Ismail, penggiat seni dan pemerhati manajemen seni
===

Tulisan ini pernah dimuat di Serambi Indonesia dalam versi yang telah diperpendek.

http://www.serambinews.com/news/view/23542/seni-dan-muri

Gaya Manajemen Modern WVI

•Februari 4, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Berikut ini contoh dari penerapan sistem manajemen organisasi nirlaba di LSM yang juga bisa menjadi acuan untuk organisasi seni nirlaba.

Gaya Manajemen Modern WVI
oleh : Eva Martha Rahayu

Kendati merupakan organisasi nirlaba, WVI dikelola secara profesional sebagaimana perusahaan modern. Balanced Scorecard pun diterapkan.

Apa yang Anda bayangkan begitu mendengar kata lembaga swadaya masyarakat (LSM)? Maaf, masih banyak anggota masyarakat yang beranggapan bahwa LSM atau non-governmental organization (NGO) adalah yayasan yang tidak well managed, tidak transparan, dikelola sekelompok orang radikal, antikemapanan, suka mengkritik pemerintah dengan berapi-api, menjadi corong kepentingan asing, merupakan sumber pendanaan asing, serta getol mengusung isu kemiskinan untuk menggalang dana. Namun, pendapat sinis itu tidak seratus persen benar.

Beberapa LSM berhasil membuktikan sepak terjangnya tidak melenceng dari visi dan misi yayasan nirlaba. Salah satunya, World Vision Indonesia (WVI). Walaupun belum ada aturan baku tentang good NGO governance, WVI berusaha mengelola internal lembaganya seperti modern corporation yang memperhatikan kepentingan stakeholder dan shareholder.

Potret kesuksesan WVI setidaknya tergambar dari besarnya dana kelolaan. Lihat saja, hingga tahun 2009 WVI mengelola dana US$ 23 juta. Sementara dana World Vision global terkumpul US$ 3 miliar. Lalu, dalam hal pemberian kompensasi ke karyawan, WVI dikenal standarnya lebih tinggi ketimbang LSM lain dan sudah menerapkan Balanced Scorecard (BSC) untuk mengukur kinerja karyawan.

Anda pasti bertanya-tanya bagaimana WVI mengelola organisasinya sehingga menuai hasil memuaskan. Nah, sebelum panjang lebar membahas best practise manajemen WVI, perlu diketahui sejarah keberadaan serta visi-misinya.

WVI adalah LSM jaringan World Vision asal Amerika Serikat yang didirikan oleh Dr. Robert Pierce tahun 1950. Sebagai pemimpin Kristen dan pembuat film, Pierce tergerak oleh dampak kemiskinan dan Perang Korea terhadap kehidupan anak-anak yang menderita.

Di Indonesia, pelayanan World Vision dimulai tahun 1960 saat membuka kantor perdananya di Batu, Malang, Jawa Timur. Beberapa sukarelawan berperan aktif dalam mengelola LSM tersebut di bawah pengawasan German Eddey yang dikenal sebagai direktur WVI pertama. Kala itu pelayanan difokuskan untuk penyediaan pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak di sejumlah panti asuhan di Jawa.

Trihadi Saptoadi menjelaskan, visi WVI adalah setiap anak itu hidup seutuhnya; setiap hati untuk mewujudkannya. “Artinya, ada dua pihak yang menjadi target utama WVI: anak-anak dan society, termasuk internal organisasi WVI,” kata Direktur Nasional WVI itu.

Misi WVI adalah ingin melihat transformasi manusia yang ter-develop dengan baik dan benar dari aspek fisik, intelektual, emosi yang stabil dan spiritual. Itulah yang disebut “anak hidup seutuhnya”, yaitu anak yang merdeka, sehat fisik dan jasmani, sehat mental, serta berpendidikan dan berkepribadian baik karena percaya pada Tuhan. “Kami (WVI) terpanggil mewujudkan misi berdasarkan nilai-nilai Kristiani,” ujar Trihadi. Namun, dia menegaskan, meski didasari nilai-nilai Kristiani, WVI bukan lembaga misionaris. Trihadi menambahkan, ”Kami tidak bergerak atas nama gereja atau punya gereja. Tapi, WVI itu lembaga kemanusiaan yang bergerak dan bekerja untuk mewujudkan anak-anak hidup seutuhnya tanpa memandang unsur SARA.”

Lalu, bagaimana gaya manajemen modern laiknya sebuah perusahaan yang diterapkan WVI?

Bagi Trihadi, NGO itu tak ubahnya organisasi bisnis. Walaupun tidak profit oriented, WVI juga need fund raiser, need fund trust dan need good image. LSM ini membutuhkan penyandang dana, kepercayaan mengelola dana plus citra yang baik. Dan seiring membesarnya dana kelolaan dan organisasi WVI, “Kami menata ulang seluruh aspek organisasi, termasuk retain dan develop karier karyawan,” ucap pria kelahiran Bali, 16 Desember 1961, itu.

Untuk mendapatkan donatur, sebagaimana dituturkan Katarina Hardono, WVI tidak semata-mata menjual isu kemiskinan atau kesedihan. “Kami datang ke para fund raiser untuk memasarkan sebuah isu solusi pengentasan persoalan anak-anak. Kami menjadikan mereka mitra yang sevisi dan semisi dengan kami,” Direktur Komunikasi Pemasaran Strategis WVI itu mengungkapkan.

Katarina mengaku pihaknya tidak main-main dalam memasarkan WVI lantaran mempertaruhkan kredibilitas organisasi yang sudah mendunia. Menurutnya, yang dijual WVI adalah harapan dan solusi bahwa dengan program LSM ini, anak-anak akan memiliki kehidupan yang lebih baik. Yang jelas, Katarina dan timnya memosisikan pihaknya sejajar dengan calon donatur atau klien. Agar WVI tidak terkesan menengadahkan tangan begitu saja, pihaknya datang dengan bendera organisasi yang kredibilitas dan akuntabilitasnya sangat terjaga.

Sejauh ini, perusahaan yang menjadi donatur atau mitra WVI adalah korporasi yang sangat kredibel di dunia. Sebut saja, Chevron, Indofood, Johnson & Johnson serta Unilever. Walaupun begitu, Katarina mengklaim, WVI selektif dalam memilih donatur. “Bukannya kami sombong. Biarpun mereka berminat menjadi partner, tapi bila tidak sesuai dengan visi kami, akan kami tolak,” katanya menegaskan. Alhasil, due dilligence pun dilakukan terhadap calon donor. WVI tidak mau bermitra dengan perusahaan yang basisnya sektor rokok dan minuman keras, atau citra perusahaannya sangat terkenal dengan pencucian uang dan kental korupsi-kolusi-nepotisme.

Dijelaskan Trihadi, sumber pendanaan WVI, sebesar 70% dari individual dan 30% korporasi. Donaturnya mayoritas dari luar negeri; terbesar dari AS, Kanada dan Australia. Di lapis kedua, penyandang dana dari Hong Kong, Belanda, Taiwan serta Jepang.

Sementara, untuk mengelola dana, WVI berusaha bekerja lebih profesional, transparan dan lebih terpercaya. Pendonor menuntut adanya reporting pengelolaan dana yang dipercaya akuntabilitasnya. Itulah sebabnya, aliran dana WVI dapat dipantau secara real on time dan online yang bisa dimonitor di seluruh jaringan World Vision dunia. Apalagi, WVI juga dipantau secara rutin oleh tim senior manajemen World Vision global.

Memang dana kelolaan WVI besar, tetapi untuk operasional tidak bisa sewenang-wenang. Umumnya dari dana yang diberikan donor itu, sebanyak 10%-20% dipakai untuk biaya operasional manajemen dan administrasi.

Guna membangun citra yang baik, WVI mengundang berbagai media untuk mengikuti program-program layanannya. Ini dilakukan karena pihaknya tidak mungkin memasang iklan besar-besaran di media nasional yang biayanya mahal untuk branding. Apalagi, membangun awareness seperti itu pasti akan dipertanyakan oleh donatur karena termasuk penggunaan dana yang tidak efisien.

Selain strategi mencari fund raiser, mengelola dana dan melakukan branding NGO, tak kalah pentingnya menjadi perhatian manajemen WVI adalah mengelola SDM. WVI menerapkan BSC untuk menilai kinerja karyawan dan organisasi secara fair dan transparan. BSC juga menjadi tool yang bisa membantu WVI lebih meningkatkan kompetensi diri, misalnya bagaimana memahami proses rekrutmen, mempertahankan karyawan dan meningkatkan leadership skill.

Pada tahap awal mengelola SDM, yang dilakukan adalah merekrut orang-orang terbaik. Kandidat mesti multitalenta, menguasai bahasa asing, kreatif, mobilitasnya tinggi, bisa bekerja dalam tekanan deadline, mampu bekerja dalam lingkungan yang multikultural, responsif, sanggup bekerja di lingkungan yang tidak nyaman saat bertugas di daerah kumuh, dan sebagainya.

Sekarang total karyawan WVI berjumlah 935 orang. Sama halnya dengan organisasi NGO dunia, SDM WVI terdiri dari tiga lapisan lingkaran. Lapisan pertama, pegawai inti; lapisan kedua, orang yang bekerja by project; lapisan ketiga, volunter. Untuk pegawai inti, ada 13 orang yang duduk di level manajemen senior.

Ketatnya seleksi itu diimbangi dengan kompensasi yang sepadan. WVI menggaji karyawan di atas LSM lain meski tidak sejajar dengan NGO di bawah PBB, seperti USAID, UNESCO dan UNICEF. “Dalam penerapan sistem kompensasi karyawan, kami bersaing dengan OXFAM atau perusahaan kelas menengah, walaupun tidak sebanding dengan IBM,” ungkap Trihadi yang meraih gelar MBA dari Institut Pengembangan Manajemen Indonesia dan Mount Eliza Business School, Monash University, Melbourne, Australia.

Jenjang karier karyawan WVI juga jelas. Bagi pegawai berprestasi, terbuka kesempatan berkarier di World Vision level global. Contohnya, Trihadi pernah bertugas di World Vision Cina, Hong Kong, Laos, Nepal dan AS. Di ASEAN, ada tiga direktur World Vision yang asalnya orang Indonesia, yakni di kantor Indonesia, Kamboja dan Myanmar. “Saya dulu masuk ke World Vision sejak masih level staf. Intinya, bekerja di sini juga merupakan panggilan hati. Banyak benefit yang segala sesuatunya tidak bisa dinilai dengan uang. Bukan berarti kami tidak butuh uang, tapi umumnya rata-rata profil karyawan World Vision adalah orang-orang yang bekerja dan berpikir tidak semata-mata demi uang,” ujar ayah Ramani Gaia Putyarni dan Kinari Pilar Adiarni itu.

Kualitas pendidikan karyawan terus ditingkatkan. Kesempatan karyawan WVI mendapatkan beasiswa di dalam dan luar negeri cukup banyak. Bahkan, level manajemen senior ke atas dibiayai WVI supaya kuliah MBA di Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung atau institusi pendidikan lain.

Sejatinya, penerapan BSC di WVI sejak dua tahun lalu itu sudah sampai pada level departemen, di mana Key Perfomance Indicator-nya telah menyasar individu, meski baru sampai level manajer dan supervisor. Di atas departemen ada divisi. Adapun di bawah departemen ada unit kerja.

Dalam sosialisasi BSC, WVI memiliki Strategic Management Team yang beranggotakan tiga orang. Mereka memberi laporan langsung kepada Trihadi yang berperan sebagai direktur nasional. Merekalah yang berkeliling dalam sosialisasi BSC ke seluruh unit kerja WVI. Intinya, tool ini lebih bisa melatih cara kerja dan proses bisnis agar lebih efektif, efisien dan tepat sasaran. BSC juga menjadi acuan untuk mengevaluasi proses bisnis WVI.

Penerapan BSC di WVI jelas patut dihargai. Sebab di tempat lain, menurut Agus Pambagio, tidak bisa diterapkan dan kurang relevan. Pasalnya, jenjang karier di LSM sering tidak terlalu jelas, sehingga penerapan BSC tidak bisa serta-merta menjawab kebutuhan volunter di lembaga ini. “Apalagi, karier tertinggi di LSM cuma menjadi pengurus harian atau direktur. Jadi, efektivitas BSC tidak terlalu terlihat. Oleh karena itu, BSC harus dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Sedangkan soal kinerja LSM, semua sangat tergantung pada profesionalisme volunternya,” kata pemerhati kebijakan publik dan perlindungan konsumen itu.

Nah, terkait dengan penciptaan leaders, biasanya NGO tergantung pada sosok pendirinya. Akibatnya, proses regenerasi sering mandul. Sebaliknya, meski organisasi WVI kian membesar, Trihadi mengklaim, pihaknya tidak tergantung pada seorang figur. Itulah sebabnya, WVI selalu membutuhkan banyak tenaga muda baru dan mayoritas tenaga manajemennya berusia 25-45 tahun.

Bagaimana dengan pengelolaan program layanan WVI? Trihadi mengungkapkan, program kerja WVI mengacu pada visi dan misinya itu yang mencakup tiga hal utama: pengembangan jangka panjang, emergency response (tanggap darurat) dan advokasi. Di luar itu, ada pengembangan SDM, nilai-nilai budaya organisasi dan partnering. Hebatnya, tool BSC juga menjangkau program kerja WVI yang terdiri dari 42 program, yang tersebar di 42 kabupaten dari Aceh hingga Papua.

Bentuk kegiatan program WVI, di antaranya, memenuhi kebutuhan air bersih anak-anak Nusa Tenggara Timur, meningkatkan pendidikan untuk anak-anak terlantar di Jakarta, menyantuni sejumlah panti asuhan, serta memberikan bantuan untuk korban tsunami/gempa di Aceh sebesar Rp 40 miliar dan korban gempa di Jawa Barat Rp 5 miliar.

Kendati tidak terlalu mengenal WVI, Agus beberapa kali bersama-sama di Indonesia Peduli dengan LSM itu saat memberi bantuan kepada korban gempa di Aceh dan Yogyakarta. Kerja sama WVI dengan LSM lokal memang tidak terlalu berkembang. “WVI tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan LSM lokal,” katanya. Ini dinilainya wajar karena kerja sama antara LSM internasional dan LSM lokal biasanya pada financing program. Sementara WVI lebih sering menggelar program riil seperti pembagian produk langsung.

Bagi Agus, World Vision yang dikenalnya tidak berbeda dari private voluntery organization (PVO) dari luar negeri pada umumnya: memiliki jaringan global dan dukungan dana besar. Di AS, PVO biasanya pihak yang memiliki dana, lalu dana disalurkan ke masyarakat melalui LSM. Namun, World Vision kini tidak hanya sebagai PVO, tetapi juga aktif berperan sebagai NGO di Indonesia.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, upaya mengelola WVI laiknya manajemen modern tentu patut diapresiasi.

Reportase: Tutut Handayani & Ahmad Yasir Saputra
Riset: Dian Solihati

LEMBAGA DAN BENTUK ORGANISASI SENI PERTUNJUKAN DI INDONESIA

•Februari 4, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

1. Seni Pertunjukan Istana dan ‘Barangan’

Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia, maka timbulah kemudian kerajaan sebagai pusat pemerintahan dan pusat perkembangan kebudayaan serta kesenian. Untuk melaksanakan kegiatan upacara-upacara kerajaan, raja memiliki seniman-seniman istana (dalang, penari, pangrawit, dsb.) yang berstatus sebagai abdidalem atau pegawai kerajaan. Ketika kerajaan-kerajaan Hindu mulai memeluk agama Islam sudah barang tentu tak lagi dilakukan upacara-upacara, maka seni pertunjukan yang semula mempunyai peranan keagamaan kemudian berubah lebih sebagai hiburan yang sekuler. Status para seniman ini tak berubah, artinya sebagai pegawai kerajaan yang bertugas membina dan melaksanakan pertunjukan untuk keperluan istana (pesta, perayaan, penyambutan tamu, dls.) dengan mendapatkan imbalan gaji, perumahan, dan jaminan sosial dari pemerintah kerajaan.

Sisa-sisa pelembagaan kesenian (seni pertunjukan istana) ini masih dapat dilihat di keraton Kasunanan (Surakarta) dan keraton Kasultanan (Yogyakarta). Di keraton Yogyakarta misalnya, sampai sekarang masih ada bagian dari ‘pemerintahan’ keraton yang bernama Kawedanan Hageng Punakawan Kridamardawa yang bertugas membina dan melaksanakan kehidupan seni tari dan karawitan di istana Yogyakarta. Para petugasnya kebanyakan para bangsawan kerabat Sultan, yang sudah barang tentu tak lagi mendapatkan gaji seperti ketika Sultan masih berkuasa, melainkan lebih berdasarkan kekerabatan dan kegiatan sosial.
Pertunjukan-pertunjukan istana Jawa ini basanya dilakukan di sebuah bangsal atau pendopo khusus (di keraton Yogyakarta disebut Bangsal Kencana, sedang di keraton Surakarta disebut Balai Marakata/Prabasuyasa). Di luar keraton para bangsawan kerabat raja banyak juga yang ikut membina berbagai jenis seni pertunjukan.

Berbeda dengan keadaan dan perkembangan seni pertunjukan di Bali, sampai saat ini seni pertunjukan tetap mengambil peranan utama di dalam berbagai macam upacara keagamaan. Ini dapat dimengerti karena sampai saat ini hampir seluruh masyarakat Bali memeluk agama Hindu Bali yang menempatkan seni pertunjukan di dalam upacara-upacara mereka. Agak berbeda dengan perkembangan seni pertunjukan di istana di Jawa, di Bali baik keluarga raja-raja maupun masyarakat luar istana, memelihara dengan baik nomor-nomor seni pertunjukan yang sama. Sehingga pada dasarnya sulit dibedakan antara kesenian yang berkembang di istana dan yang berkembang di luar istana. Sistim keagamaan di Bali memungkinkan pergaulan yang lebih akrab antara bangsawan dan masyarakat luar istana dalam seni pertunjukan. Karena tak jarang kedua kelompok masyarakat dengan status yang berbeda tersebut harus menyelenggarakan pertunjukan dalam sebuah pura yang sama.

Menilik perkembangan seni pertunjukan di Jawa dan di tempat-tempat lain di luar pulau Bali, kebutuhan akan seni pertunjukan sebagai sarana upacara-upacara desa, perorangan dan keperluan masyarakat yang lain, biasanya diisi atau dipenuhi oleh rombongan seni pertunjukan keliling atau rombongan ‘barangan’. Pelakunya biasanya adalah para seniman rakyat atau seniman desa: dalang, penari, pangrawit, penyanyi dls. yang disamping tugasnya mengolah sawah (bertani), dimasa-masa sela dari kegiatan di sawah (menunggu saat panen atau sehabis panen sebelum mengolah tanah) berkeliling dari desa ke desa memenuhi undangan atau menjajakan tontonan (‘mbarang’). Tergantung dari siapa yang menanggap atau mengupah, pertunjukan dapat dilakukan di pendopo, di sebuah bangunan sementara yang khusus didirikan ketika orang mengadakan suatu perayaan (‘tarub’) atau cukup di halaman atau tempat-tempat terbuka yang cukup luas. Jika tidak berdasarkan tanggapan atau undangan, tontonan keliling semacam ini dapat pula diselenggarakan dengan mengutip sumbangan langsung dari para penonton.

2. Publikasi dan Pemasaran

Bagi organisasi yang harus menyelenggarakan sendiri penjualan karcis atau mengelola sendiri gedung pertunjukannya, maka publikasi dan pemasaran pertunjukan harus pula dipersiapkan sendiri secara cermat. Kurang baiknya publikasi dan pemasaran dapat mempengaruhi kurangnya penonton, dan pada gilirannya hasil penjualan karcis yang diharapkan untuk menutup biaya produksi tidak akan terpenuhi.

Publikasi pertunjukan di jaman dahulu sering cukup dilakukan dengan menugaskan seseorang ‘memukul bende’ sambil berjalan kaki atau naik kereta dan berteriak-teriak mengabarkan datangnya pertunjukan yang bagus. Di beberapa daerah publikasi model lama ini diperbaharui dengan naik sepeda motor atau mobil dan dengan menggunakan pengeras suara, yang ternyata cukup baik hasilnya. Di kota-kota besar, publikasi ditangani melalui media masa: radio, televisi, surat kabar, majalah, bioskop, pembuatan poster, banner (spanduk), pamplet (selebaran) dan sejenisnya.

Dalam adpertensi maupun dalam media publikasi tulis yang lain, kalimat harus dibuat terbaca, ringkas dan jelas, tidak berkepanjangan. Harus pula dicantumkan tempat (gedung), hari, tanggal, jam, pertunjukan dan harga karcis serta dimana diperoleh. Keterangan yang ringkas dan jelas juga berlaku untuk bahan siaran radio, televisi, dan film. Apalagi jika harus membayar, karena diperhitungkan dengan menit, atau bahkan detik. Agar lebih menarik bahan-bahan publikasi adakalanya diberi gambar atau ilustrasi. Media publikasi yang baik adalah yang mudah dibaca dan dimengerti dalam sekejap terbaca, lengkap, ringkas, dan jelas. Umumnya media publikasi dipasang pada tempat-tempat yang banyak dikunjungi atau dilalui orang ramai.

Pembuatan banner, poster, dan pamflet dapat dicarikan sponsor dengan memasang ‘logo’ atau gambar simbol produksi dari perusahaan yang menjadi sponsor (perusahaan minuman, rokok, jamu, dls.). Perlu diperhatikan juga agar pemasangan ‘logo’ sponsor ini tidak mengalahkan publikasi pertunjukan kita sendiri. Di depan sebuah gedung pertunjukan atau di muka pusat hiburan dan kesenian biasanya selalu dapat kita temui papan pengumuman atau papan reklame dengan ukuran besar dan/atau kecil (billboard), tempat menempelkan acara-acara yang akan dipertunjukan di dalam gedung atau kompleks yang bersangkutan.

Kecuali cara-cara publikasi tersebut di atas, pemasaran pertunjukan dapat ditempuh dengan berbagai usaha. Dalam rangka mendatangkan penonton, dengan mengirimkan surat-surat pemberitahuan kepada para langganan tentang pertunjukan-pertunjukan mendatang, di samping itu juga pengiriman kalender acara. Pemberian potongan harga karcis bagi para langganan, juga layanan pemesanan tempat dan pemotongan harga kepada mereka yang membeli karcis secara rombongan. Pelayanan khusus juga diberikan kepada orang-orng lanjut usia, para pelajar, dan mahasiswa (dengan bukti khusus).

Publikasi dan pemasaran memang harus dilakukan untuk mendatangkan penonton, Oleh karenanya setiap organisasi pertunjukan memerlukan budget atau biaya khusus untuk keperluan ini. Semakin komersial sebuah organisasi pertunjukan, akan semakin besar pula biaya publikasi yang harus dikeluarkan.

Diambil dari http://etno06.wordpress.com/2010/01/07/lembaga-dan-bentuk-organisasi-seni-pertunjukan-di-indonesia/

Menjual Seni Pertunjukan Tradisi di Tanah Air ke Dunia

•Februari 4, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Berikut adalah sebuah artikel terkait bisnis seni pertunjukan tradisi di Indonesia dari kompas.com.

SENI pertunjukan tradisi jika dikemas dengan apik akan menjadi sebuah tontotan yang tak kalah menarik dengan pertunjukan modern. Lewat sebuah pertunjukan, seni dan budaya/adat istiadat sebuah daerah yang tadinya tidak diketahui masyarakat luas bisa menjadi konsumsi publik yang asyik dipandang, didengar, dan dinikmati.

Tontonan pun menjadi lebih bervariasi, saat budaya kehidupan di beberapa daerah diangkat dalam sebuah pertunjukan lewat permainan alat musik tradisional, yang dikolaborasikan dengan musik kontemporer.

Pertunjukan seperti inilah yang coba diangkat Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yang bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Solo, dan Institut Seni Indonesia Surakarta, lewat bursa seni pertunjukan Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) V 2009 yang berlangsung tanggal 3-7 Juni 2009 lalu di Solo, Jawa Tengah.

Forum yang merupakan bentuk kegiatan industri kreatif yang bertujuan untuk meningkatkan pemasaran dan promosi seni dan budaya tradisional Indonesia di forum internasional kali ini mengangkat 20 penampil (performer) utama dari daerah Sumatera, Jawa, Maluku, dan Sulawesi, serta tiga grup eksibisi dari Maluku, Jawa Timur, dan Belgia.

Lebih dari 30 penyelenggara seni pertunjukan (presenter/buyers) dari berbagai negara hadir menyaksikan pertunjukan IPAM seperti Australia, Belgia, Finlandia, Perancis, Jerman, Jepang, Singapura, Slovakia, dan Inggris. Hampir semua menyatakan kekaguman dan ketertarikan setelah menyaksikan pertunjukan tersebut.

Beberapa pun langsung memesan (booking) grup seni pertunjukan untuk tampil di negara mereka. Tak hanya sebagai tontonan, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi dan kerjasama antarnegara.

Karena alasan itulah Brisbane Powerhouse Arts (BPA), Australia, langsung memesan pertunjukan Pangkur Brujul oleh Grup Sahita Solo dan pertunjukan Rantau Berbisik oleh Grup Nan Jombang, Padang.

“Ini untuk jembatan komunikasi antara Australia dan Indonesia. Seni adalah jendela hati yang efektif untuk saling memahami. Saya akui, setelah tragedi Bom Bali, orang Australia darn pers setempat lebih banyak mendengar kasus terorisme atau orang Australia yang dipenjara karena narkoba,” ujar Direktur Brisbane Powerhouse Arts, Andrew Ross, saat penutupan IPAM, Sabtu pekan lalu.

Tidak gampang untuk bisa tampil dalam pertunjukan IPAM 2009. Harus melewati seleksi ketat dari tim yang dibentuk Depbudpar. Kepala Subdirektorat Industri Seni Direktorat Kesenian, Depbudpar, Madio Sudarmo, menyebutkan ada 215 grup seni yang melamar untuk mengikuti IPAM V 2009. Namun, kurang dari 80 grup yang memenuhi persyaratan, gara-gara masalah administrasi.

Dari 80-an pelamar diperas menjadi 48 kelompok. Tim penasihat artistik, yang terdiri dari pakar di bidangnya, menentukan kelompok mana yang berhak menjadi penampil dalam IPAM. Akhirnya terpilih 10 penampil utama dan 10 fringe (penampil tambahan), serta tiga penampil tamu (eksibisi). “Semuanya bagus-bagus dan atraktif,” kata Madio.

Setelah sukses dua kali menyelenggarakan IPAM, selanjutnya Kota Solo menjadi penyelenggara tetap IPAM. Wali Kota Solo Joko Widodo menyatakan siap menyukseskan IPAM VI dan seterusnya, sebagai bukti bahwa Kota Solo layak disebut sebagai kota pertunjukan.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.