Tinjauan Konsep Dasar Manajemen Organisasi Seni pertunjukan MAKOBAR (Manahan kota Barat) INTERTAIMENT

•Februari 4, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Berikut ini adalah contoh kasuistis dalam manajemen pemasaran seni.

Pendahuluan

MAKOBAR (Manahan Kota Barat) Intertaiment adalah nama organisasi bergerak di bidang musik yang merupakan komunitas grup musik dalam satu manajemen. basecame atau kantornya berada di Komplek Stasiun Purwosari Rt03/XIV, Laweyan, Solo yang Anggotanya berasal dari berbagai daerah meliputi solo raya yaitu solo, Sukoharjo, klaten dan boyolali. Berdirinya Komunitas musik ini tahun 2005 sebagai pimpinan pertamanya Ig Agus Santoso kemudian diganti oleh Bang Niko hingga sampai sekarang dan di tahun itu juga MAKOBAR (Manahan Kota Barat) Intertaiment mulai eksis untuk main musik akustik di berbagai event, pentas reguler dan acara wedding.

Awal Mulanya terbentuknya MAKOBAR (manahan Kota Barat) intertaiment sebenarnya bermula dari hobbies, ngamen di pinggir jalan Kota Barat dan Manahan. Dari situ, mulai dari pengamen individu beranjak terbentuk grup musik dan kemudian mereka mulai serius bermain musik akustik hingga dapat pentas di berbagai hotel maupun restoran yang ada dikota Solo. Karena banyaknya job mereka melempar job tersebut ke grup-grup yang lain hingga dapat menjalin kesepakatan untuk membentuk komunitas satu manajemen yang dinamakan MAKOBAR Intertaiment.

Anggota MAKOBAR (Manahan Kota Barat) Intertaiment kebanyakan berlatar belakang pendidikan yang minim. Mereka dasarnya berangkat dari pengamen jalanan yang ditarik oleh pengurus MAKOBAR (manahan Kota Barat) Intertaiment untuk menjadi anggota. Keuntungan ikut menjadi anggota adalah mereka disarankan untuk membentuk grup untuk menyiapkan supaya dapat siap di dunia MAKOBAR Intertaiment, dan juga mereka mendapatkan fasilitas berlatih serta dapat meminjam alat untuk pentas atau pada waktu mendapatkan job. Salah satu keunikan dari komunitas tersebut yaitu ada beberapa pertimbangan dari mereka memilih musik akustik di pentas-pentas karena fleksibel (dapat dibawa kemana-mana) pada instrumennya dan juga bisa dimainkan diadalam maupun diluar ruangan sesuai kebutuhan. Berbeda dengan band yang mesti memakai sarana yang banyak dalam penyajiannya.

Melihat dari sekilas tentang MAKOBAR (Manahan Kota Barat) Intertaiment. Ada sesuatu keinginan untuk mengetahui lebih dalam. Maka dari itu untuk sub bahasan selanjutnya pembahasannya mengenai: Apa konsep dasar manajemen organisasi MAKOBAR (Manahan Kota Barat) INTERTAIMENT?. Untuk pembahasanya dibatasi hanya menelaah mengenai mamfaat berorganisasi, mamfaat manajemen, perencanaan organisasi, pengorganisasian kegiatan, pengarahan anggota dan pengendalian kegiatan MAKOBAR (Manahan Kota Barat) Intertaiment.

Pembahasan

Dalam buku managemen organisasi seni pertunjukan/Achsan Permas, Chrysanti Hasibuan Sedyono, L.H. Pranoto, Triono Saputro; editor: Sungkowo Sutopo. Jakarta: penerbit PPM, 2003 tertulis:

Berkesenian dapat dilakukan secara individu, misalnya menari, membaca puisi, menyanyi solo, bermain musik solo, atau berpantomim. Banyak seniman berhasil dan terkenal karena berkesenian secara individu. Namun ada juga kesenian yang akan lebih baik jika dilakukan secara keompok atau memang harus berkelompok, misalnya teater, drama, sinetron, ketoprak, band, orkestra, dan menarikan tari serampang dua belas. Karena sudah sering menjalankan kesenian secara berkelompok dan anggota kelompok sudah cocok satu dengan yang lain, banyak seniman kemudian membentuk grup ataupun komunitas.

Ditinjau dari aspek nonkesenian pembentukan organisasi komunitas grup musik akustik (MAKOBAR Intertaiment) dinilai memberikan mamfaat yang lebih besar kepada pencapaian tujuan jika dibandingkan dengan dilakukan secara individual. Manfaat itu seperti:

Meningkatkan taraf hidup, derajat, kesejahteraan anggota yaitu dari pengamen jalanan hingga menjadi pengamen café, hotel, resto ataupun main di beberapa pentas besar dengan perjanjian terlebih dahulu sebelum pentas.
Membuka lapangan kerja dan mengurangi penganguran dikarenakan susahnya mendapatkan pekerjaan bagi yang berpendidikan minim.
Sebagai wadah bagi anggota dan masyarakat untuk belajar berorganisasi.
Menjadi koordinasi grup-grup musik yang tergabung dalam MAKOBAR Intertaiment di bidang sosial, politik dan ekonomi.
Sebagai penghubung pemerintah ke masyarakat tentang kebijakan-kebijakan dikarenakan MAKOBAR (Manahan Kota Barat) Intertaiment adalah salah satu organisasi masyarakat yang terdaftar.
Merivitalisasi dan melestarikan atau meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap suatu jenis kesenian khususnya musik

Sudah mengetahui bahwa berorganisasi bagi MAKOBAR (Manahan Kota Barat) Intertaiment mamberi manfaat yang sangat penting, biarpun begitu dalam berorganisasi MAKOBAR (Manahan Kota Barat) Intertaiment harus dimanajemeni dengan baik supaya tidak bubar. Permasalahan yang menyebabkan hingga bisa bubar yaitu biasanya dari aspek non artistik dan aspek manajemen kurang mendapat perhatian dari seniman seni pertunjukan. Sebagai contoh pimpinan grup sering bekerja sendiri seperti pemasaran dan kontrak, menyediakan materi lagu, mengarasemen, mengelola uang, mengurusi akomodasi. Sebagai pertanyaan apakah pemimpin grup mampu melakukan itu semua, alangkah baiknya tugas-tugas tersebut di bagi dan dibuat struktur organisasi supaya pekerjaan lebih ringan seperti azas negara kita yaitu gotong royong. Di bawah ini merupakan susunan pengurus barisan independent MAKOBAR Intertaiment And Friends.

Koordinator Pusat : Ig Agus Santoso

: Komplek Stasiun Purwosari Rt03/XIV.Laweyan.Solo

: (0271) 3085711

Simpul Solo : Hanung Sasongko

: Cinderejo Kidul Rt05/IX. Banjarsari.Solo

: 08985225221

Simpul Sukoharjo : Aries Rudiyanto

: Jl. Manggis 3 No.024 Rt02 RwXXI

: Ngringo Jaten Karang anyar

: 081804505098

Simpul Klaten : Wiyono

: Tegal sari lor Rt03 Rw III Kartosuro

: Sukoharjo telp: 085647019080

Simpul Boyo lali : Gito Suronggo

: Bibis Baru Rt02 Rw XIII

: 085642111159

Tidak hanya kepengurusan yang di atas saja tetapi masih ada seksi-seksi yang berhubungan dengan dukungan aspek nonartistik seperti seksi pemasaran, seksi penggalangan dana bantuan, seksi team keja terpadu dalam pentas, dan juga ada dibidang adminitrasi seperti bendahara dan sekertaris.

Dari uraian diatas membahas bahwa organisasi adalah kesepakatan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam pengorganisasian dan manajemen MAKOBAR Intertaiment berawal dari sekelompok orang (yang di motori oleh Ig Agus Santoso) dengan tujuan bersama yaitu bersama, berbagi dan satu sebagai wadah kebutuhan musik intertaiment di Solo raya. MAKOBAR Intertaiment adalah salah satu organaisasi masyarakat (ORMAS) di bidang kesenian yang sekarang mempunyai banyak anggota yang terpisah dalam grup-grup yang berkategorikan master lagu old dies (kenangan) maupun lagu top forti (pop sekarang). Di bawah daftar nama grup-grup yang tergabung dalam satu manajemen MAKOBAR Intertaiment:

Interlude acoustic : all around
Makobar n Friends : all around
Blue moon : oldiest / Country / latin
Simple acoustic : all around + top 40
Victory acoustic : all around
Opsa : all around
everland band : oldiest
Maestro Akustik : all around + top 40

Dari kesepakatan itu pembicaraannya tidak lepas dari proses manajemen yang perlu disiapkan dalam membantu organisasi tersebut untuk mencapai tujuan dengan lebih efektif dan efisien. Penjelasannya dapat kutipan (dari buku managemen organisasi seni pertunjukan/Achsan Permas, Chrysanti Hasibuan Sedyono, L.H. Pranoto, Triono Saputro; editor: Sungkowo Sutopo. Jakarta: penerbit PPM, 2003) tertulis: Efektif artinya dapat menghasilkan, menampilkan karya seni yang berkualitas sesuai dengan keinginan seniman dan penontonnya. Efisien artinya menggunakan sumber daya secara rasional, hemat, tidak ada pemborosan atau penyimpangan. Pada dasarnya, manajemen adalah cara memanfaatkan input untuk menghasilkan hasil yang maksimal melalui suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian dengan memperhatikan situasi dan kondisi lingkungan.

Sebagai contoh grup inti dari salah satu grup yang terdaftar di MAKOBAR Intertaiment yang bernama MAESTRO Akustik yang pentas pada malam tahun baru di café dan hotel D’Solo. Perencanaannya untuk menentukan sasaran yang akan dicapai kedepan, pastinya untuk perencanaannya dimulai sebelum mendapatkan kontrak dengan café D’Solo. Untuk kegiatan dari hasi yang sudah direncanakan adalah sebagai berikut:

Sasaran

Pentas dalam malam tahun baru

Kegiatan

Memasarkan, menawarkan bernegosiasi.
Membuat surat perjanjian
Memilih materi lagu yang yang akan dipentaskan
Latihan

Untuk sasarannya pentas di hotel & café D’Solo dengan promosi sekaligus negosiasi untuk pentas malam tahun baru antara Pengurus MAKOBAR Intertaiment dengan pihak hotel. Akhirnya dengan senang hati bisa tembus (dapat proyek/reguler) untuk tahun baru bisa pentas dan sekaligus dapat honornya. Untuk kesepakatannya antara tertuang dalam surat perjanjian seperti berikut:

HOTEL & CAFÉ D’SOLO

yang bertanda tangan di bawah ini saya:

Nama : Kang Niko

jabatan : Manager makobar Entertainment

di sebut sebagai pihak pertama ( 1)

yang bertanda tangan di bawah ini saya:

Nama : Bp. Kris

jabatan : Fnb. Manager Sahid Raya Hotel

di sebut sebagai pihak pertama ( 2)

Kedua belah pihak sepakat melakukan kerjasama dalam bentuk pementasan musik malam tahun baru 2010.

PASAL 1

pihak pertama bertanggung jawab untuk mengisi acara di HOTEL & CAFÉ D’SOLO dengan kelompok musik dan juga bersedia latihan di D’Solo 7kali latihan .

PASAL 2

pihak ke dua bertanggung jawab untuk membayar semua honor seluruh kelompok musik yang melakukan pementasan di HOTEL & CAFÉ D’SOLO kepada pihak pertama yaitu sebesar Rp 800.000,-

PASAL 3

hal-hal maupun peraturan yang belum tercantum akan dibicarakan lebih lanjut, apabila ada permasalahan akan diselesaikan secara musyawarah antara pihak pertama dan pihak ke dua .

surat perjanjian ini di buat rangkap dua,

Pihak pertama Pihak ke dua

(Kang Niko) (Bp Kris)

Untuk pemilihan lagu yang ditentukan sebagai berikut:

Terlampir

Sedangkan untuk latihan dilaksanakapa pada setiap hari jumat, satu kali dalam seminggu selama tujuh kali sebelum malam tahun baru. Dalam pembagian honornya untuk setiap main pasti disisihkan 10% untuk operasional organisasi, sedangkan untuk honor per orang Rp.100.000,-. Dibawah ini adalah kalkulasi dananya:

Dari D’Solo (uang masuk) : Rp. 800.000,-

Honor @Rp. 100.000,- x 7 orang : Rp. 700.000,-

Operasional (kas) MAKOBAR : Rp. 100.000,-

Saldo 0

Kesimpulan

MAKOBAR (manahan Kota Barat) Intertaiment adalah nama organisasi bergerak dibidang musik yang merupakan komunitas grup musik dalam satu manajemen. Ditinjau dari aspek nonkesenian pembentukan organisasi komunitas grup musik akustik (MAKOBAR Intertaiment) dinilai memberikan mamfaat yang lebih besar kepada pencapaian tujuan jika dibandingkan dengan dilakukan secara individual. Sudah mengetahui bahwa berorganisasi bagi MAKOBAR (Manahan Kota Barat) Intertaiment mamberi manfaat yang sangat penting, biarpun begitu dalam berorganisasi MAKOBAR (Manahan Kota Barat) Intertaiment harus dimanajemeni dengan baik supaya tidak bubar. Permasalahan yang menyebabkan hingga bisa bubar yaitu biasanya dari aspek non artistik dan aspek manajemen kurang mendapat perhatian dari seniman seni pertunjukan.

Daftar Pustaka

PERMAS, Achsan (2003) Manajemen Organisasi Seni Pertunjukan/Achsan Permas, Chrysanti Hasibuan Sedyoyo, L.H. Pranoto, triono Saputro; Sungkowo Sutopo. Jakarta; Penerbit PPM, 2003.

Manajemen sebagai seni atau ilmu?

•Februari 4, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Berikut ini ada juga definisi manajemen lainnya yang saya ambil dari blog annadaysya tentang tugas manajemennya yang mungkin bisa dijadikan sebuah referensi manajemen.

A. Pengantar
Ilmu manajemen sebetulnya sama usianya dengan kehidupan manusia, mengapa demikian karena pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip manajemen, baik langsung maupun tidak langsung. Baik di sadarai ataupun tidak disadari. Ilmu manajemen ilmiah timbul pada sekitar awal abad ke 20 di benua Eropa barat dan Amerika. Dimana di negara-negara tersebut sedang dilanda revolusi yang dikenal dengan nama revolusi industri. Yaitu perubahan-berubahan dalam pengelolaan produksi yang efektif dan efisien. Hal ini dikarenakan masyarakat sudah semakin maju dan kebutuhan manusia sudah semakin banyak dan beragama sejenisnya.
Sekarang timbul suatu pertanyaan “siapa sajakah yang sebenarnya memakai manajemen “ apakah hanya digunakan di perusahaan saja atau apakah di pemerintahan saja. Manajemen diperlukan dalam segala bidang. Bentuk dan organisasi serta tipe kegiatan. Dimana orang-orang saling bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.

B. Definisi Manajemen
Mendefinisikan manajemen ada berbagai ragam, ada yang mengartikan dengan ketatalaksanaan, manajemen pengurusan dan lain sebagainya. Pengertian manajemen dapat dilihat dari tiga pengertian.
1. Manajemen sebagai suatu proses
2. Manajemen sebagai suatu kolektivitas manusia
3. Manajemen sebagai ilmu ( science ) dan sebagai seni
Manajemen sebagai suatu proses. Pengertian manajemen sebagai suatu proses dapat dilihat dari pengertian menurut :
1. Encylopedia of the social science, yaitu suatu proses dimana pelaksanaan suatu tujuan tertentu dilaksanakan dan diawasi.
2. Haiman, manajemen yaitu fungsi untuk mencapai suatu tujuan melalui kegiatan orang lain, mengawasi usaha-usaha yang dilakukan individu untuk mencapai tujuan
3. Georgy R. Terry, yaitu cara pencapaian tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu dengan melalui kegiatan orang lain.
Manajemen sebagai kolektivitas yaitu merupakan suatu kumpulan dari orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama. Kolektivitas atau kumpulan orang-orang inilah yang disebut dengan manajemen, sedang orang yang bertanggung jawab terhadap terlaksananya suatu tujuan atau berjalannya aktivitas manajemen disebut Manajer.
Manajemen sebagai suatu ilmu dan seni, melihat bagaimana aktivitas manajemen dihubungkan dengan prinsip-prinsip dari manajemen. Pengertian manajemen sebagai suatu ilmu dan seni dari :
1. Chaster I Bernard dalam bukunya yang berjudul The function of the executive, bahwa manajemen yaitu seni dan ilmu, juga Henry Fayol, Alfin Brown Harold, Koontz Cyril O’donnel dan Geroge R. Terry.
2. Marry Parker Follett menyatakan bahwa manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.
Dari devinisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen yaitu koordinasi semua sumber daya melalui proses perencanaan, pengorganisasian, penetapan tenaga kerja, pengarahan dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
C. Manajemen Sebagai Ilmu Dan Sebagai Seni
Manajemen merupakan suatu ilmu dan seni, mengapa disebut demikian, sebab antara keduanya tidak bisa dipisahkan. Manajemen sebagai suatu ilmu pengetahuan, karena telah dipelajari sejak lama, dan telah diorganisasikan menjadi suatu teori. Hal ini dikarenakan didalamnya menjelaskan tentang gejala-gejala manajemen, gejala-gejala ini lalu diteliti dengan menggunakan metode ilmiah yang dirumuskan dalam bentuk prinsip-prinsip yang diujudkan dalam bentuk suatu teori.
Sedang manajemen sebagai suatu seni, disini memandang bahwa di dalam mencapai suatu tujuan diperlukan kkerja sama dengan orang lain, nah bagaimana cara memerintahkan pada orang lain agar mau bekerja sama. Pada hakekatnya kegiatan manusia pada umumnya adalah managing ( mengatur ) untuk mengatur disini diperlukan suatu seni, bagaimana orang lain memerlukan pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama.

D. Manajemen Sebagai Suatu Profesi
Dalam jaman modern ini semua jenis kegiatan selalu harus dimanajemeni, dalam arti aturan yang jelas, dan sekarang boleh dikata bahwa bidang manajemen sudah merupakan suatu profesi bagi ahlinya. Mengapa demikian karena dalam kegiatan apapun pekerjaan harus dikerjakan secara efisien dan efektif, sehingga diperoleh masukan atau input yang besar.
Edgar H Schein dalam bukunya yang berjudul organization socialization and the profession of Managemen menguraikan karakteristik atau criteria-kriteria sesuatu bisa dijadikan suatu profesi yaitu :
1. Para professional membuat keputusan atas dasar prinsip-prinsip umum yang berlaku dalam situasi dan lingkungan, hal ini banyak ditunjang dengan banyaknya pendidikan-pendidikan yang tujuannya mendidik siswanya menjadi seorang professional. Misalnya Akademi Pendidikan Profesi Manajemen, kursus-kursus dan program-program latihan dan lain sebagainya.
2. Para profesioal memperoleh status dengan cara mencapai suatu standar prestasi kerja tertentu, ini tidak didasarkan pada keturunan, favoritas, suku bangsa, agama dam criteria-kriteria lainnya.
3. Para professional harus ditentukan oleh suatu kode etik yang kuat.

E. Tingkatan Manajemen Dan Manajer
Manajemen digunakan dalam segala bentuk kegiatan baik kegiatan profesi maupun non profesi, baik organisasi pemerintah maupun swasta, maka manajer dapat diklasifikasi dalam dua cara yaitu tingkatan dalam organisasi dan lingkup kegiatan yang dilakukan.
Bila dilihat dari tingkatan dalam organisasi, manajemen dibagi menjadi tiga golongan yang berbeda yaitu :
1. Manajemen Lini : atau manajemen tingkat pertama yaitu tingkatan yang paling rendah dalam suatu organisasi, dimana seorang yang bertanggung jawab atas pekerjaan orang lain, misalnya mandor atau pengawas produksi dalam suatu pabrik pengawas teknik suatu bagian riset dan lain sebagainya.
2. Manajemen menengah ( Midle Manager ) yaitu mencakup lebih dari satu tingkatan didalam organisasi.
3. Manajemen Puncak ( Top Manajer ) terdiri atas kelompok yang relatif kecil, yang bertanggung jawab atas manajemen keseluruhan dari organisasi.
Manajer fungsional bertanggung jawab pada satu kegiatan organisasi, seperti produksi pemasaran, keuangan dan lain sebagainya, manajer umum membawahi unit yang lebih rumit misalnya sebuah perusahaan cabang atau bagian operasional yang independen yang bertanggung jawab atas semua kegiatan unit.
Ada dua fungsi utama atau keahlian ( skill ) yaitu keahlian teknik ( Teknical Skill ) dan keahlian manajerial ( Managerial Skill ). Keahlian teknik yaitu keahlian tentang bagaimana cara mengerjakan dan menghasilkan sesuatu yang terdiri atas pengarah dengan motivasi, supervisi dan komunikasi. Keahlian manajerial yaitu keahlian yang berkenan tentang hal penetapan tujuan perencanaan, pengorganisasian, penyusunan personalia dan pengawasan.

F. Fungsi-fungsi Manajemen
Fungsi manajemen menurut beberapa penulis antara lain :
1. Ernest Dale : Planning, Organizing, Staffing, Directing, Innovating, Representing dan Controlling.
2. Oey Liang Lee : Planning, Organizing, Directing, Coordinating, Controlling.
3. James Stoner : Planning, Organizing, Leading, Controlling.
4. Henry Fayol : Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling.
5. Lindal F. Urwich : Forescating, Planning, Organizing, Commanding, Cordinating, Controlling.
6. Dr. SP. Siagian MPA : Planning, Organizing, Motivating, Controlling.
7. Prayudi Atmosudirjo : Planning, Organizing, Directing/ Actuating, Controlling.
8. DR. Winardi SE : Planning, Organizing, Coordinating, Actuating, Leading, Communicating, Controlling.
9. The Liang Gie : Planning, Decision Making, Directing, Coordinating, Controlling, Improving.
Pada hakekatnya fungsi-fungsi di atas dapat dikombinasikan menjadi 10 fungsi yaitu :
1. Forecasting (ramalan) yaitu kegiatan meramalkan, memproyeksikan terhadap kemungkinan yang akan terjadi bila sesuatu dikerjakan.
2. Planning (perencanaan) yaitu penentuan serangkaian tindakan dan kegiatan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
3. Organizing (organisasi) yaitu pengelompokan kegiatan untuk mencapai tujuan, temasuk dalam hal ini penetapan susunan organisasi, tugas dan fungsinya.
4. Staffing atau Assembling Resources (penyusunan personalia) yaitu penyusunan personalia sejak dari penarikan tenaga kerja baru. latihan dan pengembangan sampai dengan usaha agar setiap petugas memberi daya guna maksimal pada organisasi.
5. Directing atau Commanding (pengarah atau mengkomando) yaitu usaha memberi bimbingan saran-saran dan perintah dalam pelaksanaan tugas masing-masing bawahan (delegasi wewenang) untuk dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
6. Leading yaitu pekerjaan manajer untuk meminta orang lain agar bertindak sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
7. Coordinating (koordinasi) yaitu menyelaraskan tugas atau pekerjaan agar tidak terjadi kekacauan dan saling melempar tanggung jawab dengan jalan menghubungkan, menyatu-padukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan.
8. Motivating (motivasi) yaitu pemberian semangat, inspirasi dan dorongan kepada bawahan agar mengerjakan kegiatan yang telah ditetapkan secara sukarela.
9. Controlling (pengawasan) yaitu penemuan dan penerapan cara dan peralatan untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan tujuan.
10. Reporting (pelaporan) yaitu penyampaian hasil kegiatan baik secara tertulis maupun lisan.
Proses pelaksanaan kegiatan manajemen, maka fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan. Ini adalah fungsi-fungsi ke dalam perusahaan, sedang fungsi manajer ke luar perusahaan adalah :
1. mewakili perusahaan dibidang pengadilan.
2. ambil bagian sebagai warga negara biasa.
mengadakan hubungan dengan unsur-unsur masyarakat.

(http://annadaysya.ngeblogs.com/2009/11/10/manajemen-sebagai-seni-atau-ilmu/)

Pengertian Manajemen

•Februari 4, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Secara sederhana, Ilmu Manajemen dapat diartikan “ilmu yang mempelajari cara mencapai suatu tujuan dengan efektif dan efisien, dengan bantuan orang lain.”
Definisi manajemen menurut James F.Stoner adalah sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian upaya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.”
Penjabarannya adalah sebagai berikut :
Proses : cara sistematis untuk melakukan sesuatu. Semua manajer, apapun keahlian dan keterampilan mereka, akan terlibat dalam kegiatan2 yg saling berkaitan utk mencapai tujuan organisasi.
Perencanaan (planning) : menunjukkan bahwa manajer terlebih dahulu memikirkan tujuan dan juga kegiatannya.
Pengorganisasian (organizing) : para manajer mengkoordinasikan sumberdaya yang dimiliki perusahaan.
Penggerakan (actuating) : para manajer mengarahkan dan mempengaruhi bawahannya, menggunakan orang lain untuk melaksanakan tugas tertentu.
Pengendalian (controlling): para manajer berusaha agar perusahaan bergerak ke arah tujuannya.
Manajer : orang yang bertanggung jawab dalam seluruh proses manajemen.

Kesadaran Pentingnya Manajemen Seni dalam Berkesenian

•Januari 26, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam berbagai perhelatan berkesenian apapun bentuknya baik seni rupa, seni suara, seni tari, teater, tradisi, seni musik dan lain sebagainya di daerah Sumbar pada tahun-tahun terakhir ini telah mampu memperlihatkan geliatnya. Pasalnya para penggiat seni banyak berusaha mengusung konteks keseniannya masing-masing dengan intens, namun masih menganut pola berjalan sendiri-sendiri atau bersifat intern kelompok/komunitas seni mereka saja. Artinya yang dilakukan seniman-seniman tersebut baru berada pada tahap presentasi (penampilan) bukan untuk sebuah bargaining position (posisi tawar) pada tahap sosiokultural secara wajar dan dinamis, termasuk sisi kesejahteraan seniman dalam materi sebagai umpan balik dari kegiatan itu.

Bila dikaji lebih jauh permasalahan ini menandakan bahwa jalannya berkesenian di daerah ini masih sangat jauh dari manajemen seni yang benar-benar mencitrakan integritas profesionalitas seniman. Hampir-hampir di banyak kesempatan pengelolaan even berkesenian dipegang atau dijalani sendiri oleh kelompok/komunitas seni yang bersangkutan. Kadang kala dari hal demikian sering terjadi kesemrautan dalam pengelolaannya yang akhirnya menyebabkan terjadi pemiskinan terhadap kiprah seniman yang bersangkutan di tengah-tengah masyarakat. Sehingga masyarakat memandang seni dan seniman bersangkutan seperti angin lalu saja atau tidak bermutu.

Bukan hanya itu saja, masalah lainpun menerpa alam berkesenian Sumbar yang tak kalah ruwetnya adalah ketergantungan dan keterbatasan seniman di segala aspek baik finansial, kompetensi, eksistensi, dll. Hal ini bukan saja menjadikan seniman sangat terbatas ruang geraknya tapi banyak sedikitnya turut mempengaruhi independensi seniman dan maju-mundurnya seni itu di masyarakat.

Karena dalam setiap pemunculan karya-karya seni seniman, banyak yang hanya menunggu even dari donasi pemerintah lewat Taman Budaya, kampus seni, even dari fihak swasta yang bersifat non profit/hibah, dan undangan-undangan dari pihak-pihak yang berminat terhadap mereka (mengisi acara tertentu), dan lain sebagainya. Sangat jarang kita melihat dilapangan seniman betul-betul independen menunjukan eksistensi dirinya, dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Artinya seniman yang bersangkutan memperlihatkan profesionalitasnya sebagai bagian dari dinamika seni secara luas (makro) dalam kehidupannya. Tanpa adanya dukungan manapun ia tetap eksis dan konsisten berkarya dan mempromosikan dirinya. Konsekuensi ini merupakan cerminan sebuah sikap profesionalitas yang benar-benar terlahir dari jiwa yang paling dalam sebagai seniman.

Maksudnya adalah seniman bergerak dalam berkesenian memiliki sebuah pola manajemen seni yang mampu berperan strategis dan dinamis menjawab semua tantangan dan segala kemungkinan terhadap usaha mempertahankan eksistensi diri dan kesinambungan berkarya. Untuk mewujudkan hal itu, maka seniman mesti bersinerji dengan berbagai fihak yang mau dan mampu memperjuangkan atau membangun seni untuk kemajuan bersama lewat kerja sama saling menguntungkan satu sama lain dengan memperhatikan aspek-aspek yang berlaku sesuai peran masing-masing.

Manajemen seni yang profesional dengan aplikasi yang tepat tentu akan berfungsi mengatur lalu lintas berkesenian dengan baik, terarah, dan profesional. Akibatnya posisi seni dan seniman dengan sendirinya akan terdongkrak ketingkat terhormat dan penting baik ditingkat wacana maupun sosiokultural.

Tanpa manajemen seni yang profesional akan menyebabkan dinamika seni tersebut berjalan ditempat atau mandul dalam pergerakannya dan sulit mensejahterakan seniman-seniman secara materi. Konsekuensi ini akan sangat mempengaruhi arus perubahan dinamika berkesenian dari waktu ke waktu. Karena seniman dalam berkesenian lebih banyak berkutat pada rasionalitas dirinya sendiri yang sangat membelenggu gerak langkah mereka, seperti bagaimana berkarya, mempromosikannya, bagaimana karya tersebut dapat menghidupi mereka dan lain sebagainya.

Kenapa bisa demikian?. Pertanyaan ini pantas kita ajukan agar bisa dicarikan solusi yang terbaik untuk memecahkan masalah tersebut. Sebagaimana yang kita ketahui kebanyakan seniman daerah Sumbar terlahir bukan dari sebuah pilihan profesi. Maksudnya adalah seniman-seniman di Sumbar belum sepenuhnya menjadikan berkesenian sebagai profesi (pekerjaan) yang memberikan kehidupan seperti lazimnya seniman-seniman luar negeri atau di daerah Jawa yang mampu mencerahkan kehidupan mereka seutuhnya.

Walaupun hal itu membungkus kesenian daerah ini, tapi sisi positif yang dapat dicermati dalam pergerakannya banyak seniman yang bersungguh-sungguh memperjuangkan seninya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari diri dan kehidupan mereka. Hal ini banyak dibuktikan dengan secara berkala seniman-seniman itu mempromosikan diri dan karya-karyanya dengan berani serta percaya diri seperti lazimnya yang terjadi di daerah lain. Biar belum bisa dijadikan sebagai sandaran hidup, mereka tetap berkarya dan tampil dimana-mana sebagai bentuk aktualisasi mereka sebagai seniman.

Realitas yang unik ini sudah sangat biasa terlihat di ranah berkesenian Sumbar. Seniman Sumbar dilapangan betul-betul teruji dan mumpuni menerobos segala rintangan serta hambatan yang membatasi dinamika mereka dalam berkesenian, walaupun belum dikelola dengan manajemen seni yang baik.

Gejala lain yang terkadang menjebak seniman dalam sosialisasi ditengah-tengah masyarakat adalah banyak seniman yang beranggapan bahwa diri dan seninyalah yang lebih baik dari yang lain (egoistis yang tidak dikelola dengan baik), terkadang mereka turut menjaga jarak dengan masyarakat dengan anggapan bahwa mereka merupakan makhluk ekslusif.

Padahal dalam berkesenian apapun bentuk seninya seseorang semua sama saja tanpa ada pembedaan satu sama lain dan keberadaan mereka tanpa dukungan dari masyarakat tidak ada artinya sama sekali. Dan kadang dalam alam berkesenian dan kehidupan semua seni bisa saja tergabung menjadi satu atau berkolaborasi yang mana satu sama lain saling memperkuat integritas masing-masing.

Untuk menjadikan seni Sumbar maju dan berjaya tentu semua hal-hal yang bertentangan dengan usaha itu harus diperbaiki secara mendasar (secara keseluruhan) seperti; perilaku seniman, manajemen seni yang mengatur seluruh kegiatan seniman, komponen-komponen seni yang ada sebagai sinerji antara seniman dengan masyarakat, dan cara berfikir atau sudut pandang masyarakat terhadap seni itu sendiri (apresiasi, wacana dan skeptisme terhadap seni). Sebab tanpa adanya sebuah upaya yang nyata mengarah kesana dipastikan seni Sumbar akan tetap dipandang seperti yang sudah-sudah yakni biasa-biasa saja atau malah keberadaannya tidak penting sama sekali.

Seni, seniman dan masyarakat adalah jalinan yang utuh mendudukan seni sebagai sebuah cerminan peradaban bersama yang dipandang tinggi dan bernilai. Dengan manajemen seni yang bagus harapan seni menjadi sebuah cerminan peradaban yang menentukan perubahan sosial dan budaya dapat terwujud sebagaimana yang kita harapan bersama.

Dalam manajemen seni terangkum segala konsekuensi arah dan tujuan serta tanggungjawab integral dari seluruh unsur-unsur seni (seniman, pengelola, pengamat, dll) yang ada sesuai kapasitas masing-masing. Artinya semua unsur tadi dapat berjalan bersinerji sesuai dengan kompetensi dan integritas masing-masing tanpa harus menguasai satu sama lain atau tidak saling merugikan. Pengaturan lewat manajemen seni akan merekat keutuhan berkesenian dengan kuat, baik dan profesional.

Manajemen seni merupakan sebuah tata nilai yang menjadi payung seniman dalam kiprah-kiprahnya. Dengan melibatkan manajemen seni dalam berkesenian diharapkan jalan berkesenian dapat berjalan harmonis, positif dan dinamis. Karena manajemen seni telah mengatur dan meng-update semua permasalahan berkesenian mulai dari hulu hingga hilir termasuk masalah kesejateraan seniman.

Di Sumbar kita masih belum memiliki kapasitas yang baik dengan namanya manajemen seni ini. Banyak diantara kita yang mengabaikan tentang manajemen seni dalam beraktivitas berkesenian baik individu maupun kelompok atau komunitas. Dan diperparah lagi ketiadaan arah yang jelas dari jalannya berkesenian secara makro (menyeluruh) yang mana terkesan seni dan berkesenian hanya milik pribadi, kelompok, atau daerah tertentu (Kab/Kota) saja. Sehingga seni itu hanya berkembang diseputar lingkungan dimana ia tumbuh saja dan seniman penggeraknya dalam berkesenian hanya menjalankan hobi atau kesenangan semata bukan sebuah kerja profesi.

Pemikiran inilah yang menyebabkan kehidupan berkesenian di Sumbar memperlihatkan sulit mencapai kemajuan maksimal diseluruh aspek. Artinya seni hanya menjadi suguhan yang tidak membawa arti dan perubahan apa-apa kepada masyarakat, apalagi mendudukan seni sebagai sebuah profesi yang bergengsi tentu akan sangat jauh dari harapan.

Hal ini senada dengan pendapat kepala Taman Budaya Sumbar Asnam Rasyid dalam penyelenggaran workshop manajemen seni pertunjukan di Taman Budaya tanggal 24-26 Maret baru-baru ini, “Bahwa komunitas-komunitas seni (25 komunitas seni Kota/Kab yang diundang) di Sumbar banyak yang tidak dikelola dengan manajemen seni dalam kiprah-kiprahnya.

Apa yang menyebabkan ketiadaan manajemen di dunia seni Sumbar, apakah kesenian masih belum menjanjikan secara finansial atau memang betul-betul belum sampai pemikiran untuk kesana, dikarenakan SDM yang tidak ada dan sangat jauhnya kontribusi pihak-pihak yang menggarap kesenian sebagai aset komersial. Atau memang seniman-seniman itu sendiri dan komponen-komponen yang bertanggungjawab terhadap itu sengaja menggabaikan atau tidak peduli sama sekali.

Nah, ini perlu kita pikirkan bersama bagaimana ke depannya manajemen seni mampu berperan sebagai pegangan/pedoman yang memayungi seniman dan karyanya secara profesional. Selain itu bagaimana menjadikan seni tersebut bagian terpenting dalam realitas sosiokultural yang sekaligus dapat dianggap sebagai profesi yang bergengsi. Dan harapannya akan membawa perubahan yang signifikan pada dinamika seni Sumbar yang mulai dilirik sebagai pusat baru seni Indonesia dengan khasanah seninya lokal genius Minangkabau (ABS-SBK). ***

oleh Budiman

ISU MANAJEMEN DALAM DUNIA SENI RUPA DI INDONESIA

•Januari 23, 2010 • 1 Komentar

oleh: Yustina W. Neni

Mula-mula, saya akan mengawali sesi saya ini dengan menerjemahkan kata /isu/ sebagai /hal/. Saya memilih kata /hal/ untuk menerjemahkan kata /isu/ karena arti kata itu lebih netral dibanding misalnya /problem/, /soal/, /pertanyaan/, atau bahkan /gosip/ yang semuanya lebih tendensius terhadap pencarian solusi (atas problem-problem), mencari jawaban (atas soal dan pertanyaan), atau menggosip dengan membincangkan kisah-kisah seronok seputar seniman dan nada dering pilihannya. Mengapa demikian? Menurut hemat saya mencari (-cari) problem dan teman2nya itu adalah tugas yang berat kalau hal-halnya belum tuntas dikupas.
Berikutnya, menerjemahkan kata /manajemen/ sebagai pengelolaan, maka diskusi yang saya tawarkan akan berkisar seputar “hal pengelolaan dalam dunia seni rupa Indonesia”.
Dalam kesempatan ini, jalan masuk yang saya pilih untuk menuju ke diskusi mengenai hal pengelolaan yang lebih mendalam dalam dunia seni rupa Indonesia adalah perdagangan karya seni yang saat ini omsetnya mencapai milyaran rupiah perbulannya. Namun demikian diskusi saya ini hanya bersifat pengantar, maka setelah ditemukan hal-hal yang lebih spesifik pada semua lini, maka setiap individu yang terlibat dalam lini-lini tersebut sepatutnya bekerja sesuai kapasitasnya.

PENGELOLAAN
Pengelolaan biasanya dijalankan oleh seseorang, kelompok orang, atau perusahaan, karena ada tujuan yang ingin dicapai. Contoh, tujuan perseorangan misalnya kaya, punya toko, lulus lebih cepat, naik haji pada usia muda, punya motor, dlsb. Contoh tujuan kelompok, misalnya warga kampung padat hunian memiliki MCK (Mandi Cuci Kakus) yang bersih dan sehat, memiliki resapan air hujan bersama. Semakin rumit tujuan seseorang, kelompok orang, atau perusahaan maka usaha-usaha pengelolaan dalam rangka mencapai tujuan juga lebih rumit dan waktu dalam mencapai tujuan itu juga akan ikut terpengaruh. Salah satu bentuk usaha pengelolaan dalam rangka mencapai tujuan adalah penyertaan aktivitas tambahan, misal menabung, belajar lebih giat, bekerja paruh waktu setelah selesai kuliah, menambah modal usaha, efisensi waktu bekerja, melakukan spesialisasi pekerjaan, dll.

TUJUAN EKONOMI
Beberapa diskusi yang telah terjadi, baik itu bersifat formal atau non formal, rata-rata menggaris bawahi kata /Indonesia/ dengan mempertanyakan “Indonesia yang mana dulu?”. Kali ini, saya tidak mempersoalkannya. Bagi saya mau Indonesia yang di bagian mana saja, ketika membicarakan tentang pengelolaan maka kata /tujuan/ tetap lebih dahulu harus ditanyakan. Bagi para seniman: “apa tujuanmu berkarya?”, bagi para pemilik galeri: “apa tujuanmu mendirikan galeri?”, bagi para kolektor karya seni: “apa tujuanmu mengoleksi karya seni”, bagi pengajar seni: “apa tujuanmu mengajar”, bagi para pedagang karya seni: “apa tujuanmu menjual beli karya seni?”, bagi para dermawan: “apa tujuanmu mendermakan uangmu untuk karya seni?”, bagi para penyelenggara even kesenian: “apa tujuanmu menyelenggarakan even ini atau itu?”, dll. Pertanyaan ini sebaiknya dijawab dulu oleh siapa saja yang terlibat dalam dunia seni rupa di wilayah manapun di Indonesia, dengan demikian, selanjutnya kita melihat bagaimana pengelolaan yang dilakukan seseorang, sekelompok orang, atau suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya. Jawaban orang-orang itu akan menggambarkan nilai-nilai sosial ekonomi yang diikuti oleh orang-orang itu, ketika itu. Jawaban yang bersifat kebendaan seperti saya ingin punya rumah, saya ingin punya mobil, saya ingin punya uang banyak, saya ingin keluarga saya lebih sejahtera dari saya dulu, saya ingin membantu orang tua, adik saya banyak orang tua saya miskin, dll, menggambarkan bahwa bekerja adalah usaha untuk mempertahankan kehidupannya. Dengan demikian pola hidup keseharian orang-orang itu adalah sederhana untuk tujuan bertahan hidup. Ciri dominan golongan ini adalah menjalankan pekerjaannya secara berulang-ulang dan sama. Secara ekonomi tujuan orang-orang itu sederhana dan tidak membutuhkan pengelolaan yang rumit juga.

Berkarya seni = bekerja
Di dalam dunia seni rupa ketika berkarya dianggap sebagai kegiatan ekonomi maka karya yang dihasilkan disebut sebagai produk ekonomi, bernilai tukar dan bisa diperjualbelikan, menghasilkan laba, direproduksi secara terus menerus, dll. Di lain pihak, dunia usaha cenderung lebih membutuhkan praktisi ketimbang teoritisi (baca: kritikus, sejarawan seni), outputnya bisa segera tampak, yaitu: hasil produksi yang seragam karena reproduksi yang sama, terus-menerus, atau peniruan sebagai konsekuensi atas permintaan pasar. Produksi (supplay) akan terus-menerus terjadi dan harga akan naik ketika permintaannya tetap tinggi. Kemudian proses peniruan dan atau proses reproduksi tidak terbatas pada produknya tetapi juga pola proses transaksi jual belinya. Pengelolaan dengan tujuan ekonomi dalam dunia seni rupa, telah sangat menguntungkan. Situasi ini akan memunculkan spekulasi karena penyandang dana tidak mau kehilangan keuntungan atas investasi yang telah ditanamkan. Keinginan utama dari investor adalah meminimalkan risiko dan meningkatkan perolehan. Asumsi umum bahwa investor individu yang rasional adalah seorang yang tidak menyukai risiko, maka investasi yang berisiko harus dapat menawarkan tingkat perolehan yang tinggi, oleh karena itu investor sangat membutuhkan informasi mengenai risiko dan pengembalian yang diinginkan. Dalam situasi ini maka maraknya lelang karya seni menjadi peristiwa yang logis sebagai alat penyedia informasi mengenai harga-harga. Namun informasi yang disediakan sekaligus menjadi pisau bermata dua bagi lapisan yang mengalami pencerahan kedua atau selanjutnya. Masalah yang terjadi adalah kegagapan kelas. Karena investor kedua atau yang selanjutnya itu, sebenarnya adalah pasar bagi investor yang telah maju lebih dahulu. Peristiwa ini terjadi karena tidak adanya kesadaran akan perbedaan nilai-nilai sosial dan ekonomi pada lapisan-lapisan yang berbeda. Istilah trendinya “culture shock”. Beberapa karya seni pada suatu saat bisa terjual lebih tinggi tinimbang nilai naturalnya. Analoginya demikian, nilai intrinsik uang kertas tidak sebanding dengan nilai nominalnya, artinya sebagai kertas tidak ada harganya, tetapi setelah dicetak sedemikian rupa, maka bisa berharga 5.000,00 , 10.000,00 , atau bahkan 100.000,00 . Nilai intrinsik sebuah lukisan adalah kanvas dan cat yang dipakai tetapi setelah diolah sedemikian rupa bisa berharga 10.000.000,00. Dalam dunia perduitan karena perangkat pembuat nilainya telah tersusun dengan sangat baik, maka ketika Bank Indonesia menerbitkan uang model baru sekalipun, selama tercetak angka 10.000 maka berlakulah kertas itu sebagai alat tukar baru menggantikan yang lama. Tetapi bagaimana dengan karya seni? apakah perangkat pembuat nilainya sudah tersusun rapi? Selama tidak ada, maka yang berlaku adalah yang dominan. Artinya, bisa jadi banyak uang terbuang percuma karena tertipu.

MOTIF INDIVIDU dan PENGELOLAAN dalam DUNIA SENI RUPA
Satu hal yang harus diperhatikan bersama yaitu bahwa keberhasilan berbagai aktivitas di dalam suatu usaha dalam mencapai tujuan bukan hanya tergantung pada keunggulan teknologi, dana operasi yang tersedia, sarana atau prasarana yang dimiilki, melainkan juga tergantung pada aspek sumber daya manusianya. Dalam konteks pengelolaan dalam dunia seni rupa di Indonesia, motif individu yang berada dalam jaringan pengelolaan itu mempunyai peranan besar dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya itu. Biasanya bentuk motivasi yang paling mengedepan dalam suatu usaha adalah uang. Tujuan yang tidak jelas ditambah motivasi yang bersifat materialistik belaka adalah pasar ideal bagi para produsen.

HAL PENGELOLAAN DALAM SENI RUPA DI INDONESIA
Uraian saya pada dua lembar dimuka adalah abstraksi pola produksi konsumsi dan motif individual dalam hal memandang karya seni. Efek ekonomisnya logis, karena perdagangan marak, banyak seniman menjadi lebih sejahtera, dan berimbas pada jaringan produksi lain yang langsung berhubungan seperti: produksi kanvas, cat gambar dan teman-temannya, tukang pigura dan pembuat spanram, usaha pengepakan dan jasa pengiriman, dan yang tidak langsung berhubungan seperti penyedia jasa provider telepon seluler, jaringan TV nirkabel, dan saya. Secara geografis, klasik, seniman yang tinggal di pulau Jawa lebih menikmati kemakmuran ini. Atau seniman yang punya langkah strategis walau tidak tinggal di pulau Jawa, seperti Eddi Hara. Secara ekonomi langkah-langkah strategis seperti yang disusun oleh Eddi Hara perlu ditiru. Berpikir ekonomi sangat penting dalam konteks meraih hidup yang lebih baik secara ekonomi. Dan hak atas hidup yang lebih adalah hak semua orang. Seniman Indonesia di sudut manapun di Indonesia perlu membuat perencanaan strategis. Apa itu perencanaan strategis? Perencanaan strategis adalah perencanaan yang dibuat berdasar atas pembacaan isu-isu strategis. Isu strategis adalah hal/problem yang sedang mengemuka pada kurun waktu tertentu dan lokasi tertentu yang membawa dampak (sosial, politik, ekonomi, kebudayaan) besar pada kehidupan masyarakat dalam waktu tertentu dan lokasi tertentu tersebut. Konsep-konsep tersebut perlu dipikirkan kembali oleh setiap pihak yang berkepentingan terhadap isu-isu strategis itu.

Apakah perdagangan karya seni dalam kualitas seperti yang sedang terjadi saat ini merupakan isu strategis?
Dalam satu tahun terakhir ini inventasi yang telah ditanam sangat besar. Artinya investor yang telah menanamkan modalnya secara besar dalam perdagangan ini tentu ingin uangnya kembali. Implikasi positifnya proyek ini masih akan berlangsung lebih lama di Pulau Jawa. Selama menguntungkan (labanya positif), sebuah usaha akan terus dijalankan dan dikembangbiakkan. Motivasi yang ditawarkan proyek ini besar sekali, sehingga seniman-seniman baik yang telah menikmati imbalan ini akan terus berproduksi selama masih ada permintaan. Dilain pihak proyek ini memotivasi seniman pada lapis berikutnya untuk terlibat dalam rantai produksi. Secara sosial, berdasarkan pengalaman di Indonesia, usaha yang hanya melibatkan golongan masyarakat menengah ke atas secara ekonomi dalam rantai produksi dan konsumsinya, tanpa ada system nilai yang mendasari terbentuknya usaha itu, tidak akan berdampak apapun. Karena isu yang dikembangkan hanya akan berputar-putar dalam lingkaran tersebut. Contoh, usaha gelar Master, Doktor Honoris Causa, dan produksi fashion kelas tinggi. Dengan demikian dampak secara politis juga tidak ada. Usaha yang bisa berdampak politis tinggi misalnya air minum. Kemudian bagaimana melihat kebudayaan? Manusia memiliki kemampuan beradaptasi dengan setiap bentuk perubahan. Pertanyaannya: “ perubahan macam apa yang diakibatkan oleh praktek jual beli lukisan?” Kalau tidak ada ya tidak perlu repot-repot dipikirkan. Demikianlah, minimal dengan analisis sederhana seperti itu, isu perdagangan karya seni dalam kualitas seperti yang sedang terjadi saat ini tidak bisa disebut sebagai isu strategis.

MENCARI (-CARI) ISU STRATEGIS
Ya mari kita cari sama-sama lalu kita kelola bersama.

(Yustina W. Neni, Direktur Kedai Kebun Forum, Januari 2008, Seminar IVAA)

H A L A M A N H I B U R A N
Dongeng Manajemen menjelang Tidur
Oleh: Neni/Mandor Restoran Kedai Kebun

HIKAYAT ATMO PACUL
Atmo adalah juragan pacul. Membuat pacul adalah usaha keluarga yang diturunkan secara turun temurun. Awalnya ia membantu bapaknya sebagai penghantar barang ke toko bahan bangunan, hingga akhirnya ia mewarisi pabrik pacul itu. Pacul bikinan keluarga Atmo lumayan terkenal, berapapun jumlah pacul yang disetor, pasti habis terjual, sehingga ia berpikir untuk meningkatkan kapasitas produksi pacul dipabriknya begitu ia menjadi bos atas pabrik itu. Bersama istrinya, Atmo merencanakan perubahan. Karena tidak punya cukup uang untuk menambah modal dan terlalu takut hutang ke bank, mereka hanya memikirkan agar pegawainya bekerja lebih keras. Maka untuk yang pertama kali dalam sejarah pabrik pacul itu, muncullah peraturan yaitu: (1) jam istirahat tidak boleh pulang, (2) makan siang sudah dibawa atau diantar dari rumah, (3) datang dan pulang kerja tepat waktu, (4) ijin njagong manten di kampung sendiri maksimal 2 jam termasuk perjalanan, dan harus tetap masuk kerja kembali, dll, rencana kedua menyerahkan pembuatan gagang pacul ke tetangga, rencana ketiga berbagi tugas dengan istri, Atmo menjual dan istrinya mengawasi pabrik. Atmo pacul dan istri menghitung, jika rencana kerjanya dijalankan maka bulan depan pabriknya bisa menghasilnya pacul 10 lebih banyak dibanding bulan ini. Tapi penyertaan aktivitas tambahan tidak selalu berbanding lurus dengan hasil yang dicapai, 2 orang pegawainya malah mogok pada paruh bulan berjalan. Mereka tidak mau dipanggil bekerja dengan alasan sakit. Selidik punya selidik, ternyata mereka malas bekerja karena tidak bisa jagongan lagi disamping tidak mengerti alasan mengapa jam istirahat tidak boleh pulang toh makannya tetap harus disediakan sendiri. Tetapi bukan Atmo kalau mudah putus asa. Ia adalah pemuda yang gigih disamping utamanya ia tidak mau dituduh sebagai pemusnah nama baik nenek moyangnya di dunia perpaculan. Atmo berdua lalu mendatangi keluarga kedua pegawainya, mereka minta maaf dan mengundang kedua pegawainya untuk membuat rencana kerja bersama untuk menghidupkan kembali pabrik paculnya. Atmo berdua lalu membuat kesepakatan kerja bersama, makan siang akan disediakan pabrik tetapi ijin ke kondangan tetap ada pembatasan waktu dengan beberapa syarat, jika yang mantu keluarga dekat atau tetangga terdekat, pegawai boleh libur, jika yang mantu tidak ada hubungan keluarga, setelah njagong langsung bekerja kembali, kalau membolos akan mengganti dengan lembur atau bekerja pada hari minggu dengan tetap mendapat makan. Kisah Atmo berakhir bahagia, peningkatan sebanyak 10 pacul perbulan tercapai pada bulan ketiga.

HIKAYAT RUMAH TANGGA SANG PEMBURU (atau sejarah kulkas)
Alkisah pada musim gugur yang dingin seorang pemburu dan anak laki-lakinya pulang dari berburu dengan menyeret macan loreng yang sangat besar. Istri dan anak perempuannya yang masih kecil menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Pemburu dibantu anaknya yang besar menggantung macan itu, mereka kemudian tidur. Istri pemburu dengan tangkas langsung menguliti macan itu. Gerakannya seperti orang sedang senam pada jaman sekarang, kadang-kadang membungkuk tangan kanan menyorong ke depan dan tangan kiri seperti berkacak pinggang, kadang-kadang berdiri kaki kanan ke depan kaki kiri menekuk ke depan, kedua tangan di depan muka bergerak sedikit-sedikit seperti gerakan tai chi. Waktu itu suasana tidak lagi seram karena sudah tidak ada dinosaurus. Tak terasa hari telah menjadi gelap, si istri itu sudah selesai bekerja, macan tinggal kepala. istri kemudian membesarkan nyala api, beberapa potong daging dipanggang yang lain digantung-gantung agak jauh di atas api untuk persediaan. Pemburu terbangun lalu ikut menyorong-nyorong kayu dibantu anaknya yang besar.
Keesokan paginya pemburu mengajak kedua anaknya berenang sambil belajar mencari ikan dengan tombak. Ibu sendiri menjaga makanan dan membolak-balik posisi daging sambil bersungut-sungut. Ia kebingungan dengan sisa daging yang sangat banyak, baru kali ini suaminya datang dengan tangkapan besar. Tiba-tiba ia tertegun, suami dan anak-anaknya pulang dengan membawa satu renteng ikan sebesar lengan orang dewasa. Hari itu keluarga pemburu kenyang makan ikan dan daging macan tidak disentuh. Malam itu keluarga pemburu tidak bisa tidur karena lolongan serigala, mereka terjaga hingga tengah malam. Pemburu mendadak berdiri dengan tombak siap di tangan. Dua ekor serigala muncul dengan mata menyala-nyala. Serigala rupanya tertarik dengan bau daging macan. Pemburu sangat marah dan seekor serigala berhasil mati ditombak. Hari berikutnya keluarga pemburu memakan daging serigala dengan perasaan dendam. Hari keempat, keluarga pemburu pergi bersama-sama menuju sabana. Hari itu anak yang besar akan belajar naik kuda. Di sabana mereka mengendap-endap memilih kuda remaja. Pemburu dan anak yang besar mengendap-endap mendekati kuda pilihan mereka. HAP! tertangkap kau! tetapi…kuda remaja itu jatuh dan menggelepar. Ternyata kuda itu terluka cukup parah dipaha seperti bekas cakaran macan. Ia bisa lolos dari macan tetapi akhirnya mati kehabisan darah. Tidak ada pelajaran naik kuda hari itu, tetapi mereka kembali berpesta dengan makan daging kuda. Keberuntungan terus menerus berdatangan mengunjungi keluarga pemburu sampai hari kedelapan. Istri pemburu mulai berpikir dengan sisa daging macan yang semakin mengerut dan menghitam. Ia juga mulai kawatir pada bahaya yang mengancam dan kelangsungan pendidikan anak-anaknya karena dengan keberuntungan yang bertubi-tubi itu tidak ada lagi pendidikan berburu. Maka pada malam hari ke delapan itu, ia berjalan perlahan-lahan sambil membawa daging macan simpanannya ke danau. Ia mengeduk lumpur danau dan menimbun daging macan itu. Esok paginya ia mengaku tidak tahu ke mana gantungan daging-daging itu, maka pada hari kesembilan keluarga pemburu tidak makan. Hari kesepuluh anaknya yang kecil mulai menangis karena lapar dan pemburu mulai memutuskan berburu kembali. Mereka berpeluk-pelukan karena tidak tahu apakah mereka akan berkumpul kembali. Hari kesebelas adalah hari kedua tidak makan bagi istri dan anaknya yang kecil. Lalu Ia mengajak anaknya yang kelaparan ke danau mencari ikan. Karena tidak berpengalaman, seekor ikanpun tak jua tertangkap. Dari jauh ia melihat anaknya tidak menangis lagi, tapi ia heran karena anak itu tampak sedang memakan sesuatu. Ia berlari mendekat ke pinggir danau dan ia menemukan daging simpannya tetap segar berbalut lumpur yang dingin itu. Seminggu kemudian pemburu pulang sambil membawa seekor macan, ia disambut istrinya yang tetap segar bugar sambil tersenyum. (Kisah ini sungguh-sungguh terjadi di Persia (sekarang Iran), jauh pada zaman dahulu. Selanjutnya pendingin artifisial seperti yang kita kenal sekarang, pertama kali diperagakan oleh William Cullen dari Universitas Glasgow pada tahun 1748)

PS: Hubungan keluarga sang pemburu dengan nenek moyang William Cullen, terjadi setelah terjalin hubungan antara dataran Asia dan Eropa, beberapa abad kemudian lewat perdagangan karpet. Mengenai pertanyaan “apa hubungan antara karpet dengan kulkas” mohon sabar, karena sedang diselidiki.

Yustina W. Neni/Januari 2008
(untuk seminar IVAA Yogykarta: manajemen seni rupa di era sekarang)

Problem Seniman dan Manajemen Seni

•Januari 23, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Problem Seniman dan Manajemen Seni

Seorang koreografer bercerita kepada saya tentang kesulitannya menentukan penawaran nilai kontrak. Kebetulan, kelompoknya diundang sebuah yayasan penggiat kesenian di Jakarta, untuk menampilkan karya terbarunya. Keresahan semacam itu seharusnya tak perlu ada, bila koreografer itu tahu posisinya, juga tahu posisi dan mengenal kepentingan si pengundang.

Singkatnya, siapapun si pengundang –ia bisa mewakili yayasan, badan, atau atas namanya sendiri, pasti punya perhitungan dan standar kuratorial tertentu. Ia juga punya kepentingan tertentu pula, sehingga ia akan menyiapkan diri untuk menghadapi setiap konsekwensi dari tindakannya (mengundang seorang seniman atau kelompok kesenian). Konsekwensi yang saya maksud, terutama menyangkut sistem dan nilai kontrak.

Sebuah adegan dalam pertunjukan The Iron Bed yang disutradarai Garin Nugroho.

Dengan mengetahui hitung-hitungan demikian, maka ia akan leluasa membuat keputusan: bersedia atau harus menolak tawaran atau undangan pentas. Meski uang bukan menjadi pertimbangan satu-satunya, tak ada salahnya seorang seniman harus hati-hati. Jangan sampai pementasan justru membuatnya merugi.

Ada sebuah ungkapan Jawa, yang tak ada salahnya kita simak baik-baik. Yen ora oleh jenang, ya oleha jeneng. Sukur loro karone, kalau tak dapat jenang (materi), berolehlah nama (eksistensi). Syukur mendapatkan keduanya. Sebab dunia kesenian, sejatinya adalah rimba. Jeruk makan jeruk, kerap terjadi di balik rimbun belantaranya.

Ironisnya, seniman suka terjebak pada persoalannya sendiri. Penyakit rindu tampil, kerap menjadi bumerang bagi dirinya. Alhasil, nilai kontrak ala kadarnya pun diembatnya, tak peduli apa yang bakal terjadi nanti. Capek, biasanya tak jadi soal bagi kebanyakan seniman kita. Kalau sudah begini, ya mau apa lagi?

Sebaliknya, pengelola yayasan, badan atau pribadi yang tampak gagah dan serba mampu mendanai, pun suka pura-pura tak tahu persoalan klasik seniman. Malah, ada pula yang menurut saya memanfaatkan situasi psikologis para seniman yang demikian: malu bicara angka, takut dianggap mata duitan. Tak peduli, nilai kontrak hanya untuk cukup untuk biaya latihan, makan dan keperluan akomodasi dan transportasi berstandar pas-pasan. Soal honor? Seniman cenderung tabu menyinggung persoalan yang satu itu.

Di luar seniman dan pengelola yayasan atau badan kesenian, ada satu lagi sosok atau posisi yang sering membuat saya geleng-geleng kepala. Yakni, manajer (grup) seniman.

Yang saya tahu, di Surakarta sudah mewabah individu atau sekumpulan orang yang menyebut diri mereka sebagai manajer artis. Namanya selalu mentereng: xxxx Art Management!

Yang membuat geleng-geleng kepala, apa yang mereka lakukan tak lebih seperti (maaf) babu! Mengapa saya menyebutnya babu, sebab apa yang mereka lakukan tak lebih hanya membelanjakan sejumlah uang yang diperoleh dari si pengundang. Kalaupun ada service-nya, ya tak jauh dari urusan administratif: surat-menyurat, telpon-telponan. Mereka menempatkan diri mirip penghubung, antara seniman dengan si pengundang.

Pertunjukan TUK oleh Teater Lungid Surakarta.

Manajer demikian, kebanyakan tak peduli dengan repotnya seniman mencurahkan waktu, pikiran dan tenaganya untuk melakukan proses kreatif, terkait dengan upaya mewujudkan gagasan-gagasan artistik si seniman. Tak jarang, ketika hitung-hitungannya menunjukkan kekurangan, si manajer tak segan mengutarakannya kepada si seniman, dan meminta si seniman ikut berusaha ’menutup’ kekurangan biaya produksi.

Padahal, seharusnya sudah menjadi kewajiban sang manajer untuk memecahkan problem keuangan dan urusan-urusan teknis dari latihan hingga pementasan dan sesudahnya, sehingga si seniman bisa konsentrasi penuh pada upaya mempertanggungjawabkan karyanya. Menyedihkan kalau manajer masih tega meminta honor untuk model kerja yang demikian.

Semestinya, manajer bisa menjadi jembatan antara seniman dengan pihak-pihak di luar dirinya. Ketika seniman enggan menyebut nilai kontrak (karena lebih didorong rasa malu, sungkan dan sebagainya), maka manajerlah yang bisa menjembatani kendala klasik dan menjangkiti kebanyakan seniman itu. Bahkan, pelibatan sponsor atau donatur menjadi tugas sang manajer demi suksesnya proses kreatif sang seniman, meski saya tahu, banyak perusahaan atau institusi lainnya, tak mudah ditembus, meski sekadar ‘berbelas kasihan’. Tak usah muluk-muluk mengejar dana corporate social responsibility segala.

Kembali ke persoalan koreografer yang mengajak saya berbincang, saya hanya menyarankan agar jujur dan berani terbuka kepada pihak yang akan mengundangnya. Misalnya, meminta si pengundang menanggung beberapa komponen biaya seperti transportasi dan konsumsi latihan, transportasi pergi-pulang dengan standar kenyamanan tertentu (sebab seniman harus fit saat pentas), akomodasi, dan tak lupa honor masing-masing artis dan kru yang terlibat.

Kalau tak mau menanggung kebutuhan dasar itu, menurut saya, ya lebih baik tidak usah menerima kontrak untuk berpentas, daripada capek dan menggerutu di belakang. Kecuali, bila memang dasarnya sudah rindu tampil, tergila-gila pada panggung pementasan. (Padahal saya yakin, seniman masih punya harga diri)
from: blontankpoer.blogsome.com

Starts from now and then

•Januari 20, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mulai sekarang blog ini beralih ke sebuah blog yang mengetengahkan seni dan manajemen sebagai topik utama… baik terpisah maupun sebagai satu kesatuan.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.