Problem Seniman dan Manajemen Seni

Problem Seniman dan Manajemen Seni

Seorang koreografer bercerita kepada saya tentang kesulitannya menentukan penawaran nilai kontrak. Kebetulan, kelompoknya diundang sebuah yayasan penggiat kesenian di Jakarta, untuk menampilkan karya terbarunya. Keresahan semacam itu seharusnya tak perlu ada, bila koreografer itu tahu posisinya, juga tahu posisi dan mengenal kepentingan si pengundang.

Singkatnya, siapapun si pengundang –ia bisa mewakili yayasan, badan, atau atas namanya sendiri, pasti punya perhitungan dan standar kuratorial tertentu. Ia juga punya kepentingan tertentu pula, sehingga ia akan menyiapkan diri untuk menghadapi setiap konsekwensi dari tindakannya (mengundang seorang seniman atau kelompok kesenian). Konsekwensi yang saya maksud, terutama menyangkut sistem dan nilai kontrak.

Sebuah adegan dalam pertunjukan The Iron Bed yang disutradarai Garin Nugroho.

Dengan mengetahui hitung-hitungan demikian, maka ia akan leluasa membuat keputusan: bersedia atau harus menolak tawaran atau undangan pentas. Meski uang bukan menjadi pertimbangan satu-satunya, tak ada salahnya seorang seniman harus hati-hati. Jangan sampai pementasan justru membuatnya merugi.

Ada sebuah ungkapan Jawa, yang tak ada salahnya kita simak baik-baik. Yen ora oleh jenang, ya oleha jeneng. Sukur loro karone, kalau tak dapat jenang (materi), berolehlah nama (eksistensi). Syukur mendapatkan keduanya. Sebab dunia kesenian, sejatinya adalah rimba. Jeruk makan jeruk, kerap terjadi di balik rimbun belantaranya.

Ironisnya, seniman suka terjebak pada persoalannya sendiri. Penyakit rindu tampil, kerap menjadi bumerang bagi dirinya. Alhasil, nilai kontrak ala kadarnya pun diembatnya, tak peduli apa yang bakal terjadi nanti. Capek, biasanya tak jadi soal bagi kebanyakan seniman kita. Kalau sudah begini, ya mau apa lagi?

Sebaliknya, pengelola yayasan, badan atau pribadi yang tampak gagah dan serba mampu mendanai, pun suka pura-pura tak tahu persoalan klasik seniman. Malah, ada pula yang menurut saya memanfaatkan situasi psikologis para seniman yang demikian: malu bicara angka, takut dianggap mata duitan. Tak peduli, nilai kontrak hanya untuk cukup untuk biaya latihan, makan dan keperluan akomodasi dan transportasi berstandar pas-pasan. Soal honor? Seniman cenderung tabu menyinggung persoalan yang satu itu.

Di luar seniman dan pengelola yayasan atau badan kesenian, ada satu lagi sosok atau posisi yang sering membuat saya geleng-geleng kepala. Yakni, manajer (grup) seniman.

Yang saya tahu, di Surakarta sudah mewabah individu atau sekumpulan orang yang menyebut diri mereka sebagai manajer artis. Namanya selalu mentereng: xxxx Art Management!

Yang membuat geleng-geleng kepala, apa yang mereka lakukan tak lebih seperti (maaf) babu! Mengapa saya menyebutnya babu, sebab apa yang mereka lakukan tak lebih hanya membelanjakan sejumlah uang yang diperoleh dari si pengundang. Kalaupun ada service-nya, ya tak jauh dari urusan administratif: surat-menyurat, telpon-telponan. Mereka menempatkan diri mirip penghubung, antara seniman dengan si pengundang.

Pertunjukan TUK oleh Teater Lungid Surakarta.

Manajer demikian, kebanyakan tak peduli dengan repotnya seniman mencurahkan waktu, pikiran dan tenaganya untuk melakukan proses kreatif, terkait dengan upaya mewujudkan gagasan-gagasan artistik si seniman. Tak jarang, ketika hitung-hitungannya menunjukkan kekurangan, si manajer tak segan mengutarakannya kepada si seniman, dan meminta si seniman ikut berusaha ’menutup’ kekurangan biaya produksi.

Padahal, seharusnya sudah menjadi kewajiban sang manajer untuk memecahkan problem keuangan dan urusan-urusan teknis dari latihan hingga pementasan dan sesudahnya, sehingga si seniman bisa konsentrasi penuh pada upaya mempertanggungjawabkan karyanya. Menyedihkan kalau manajer masih tega meminta honor untuk model kerja yang demikian.

Semestinya, manajer bisa menjadi jembatan antara seniman dengan pihak-pihak di luar dirinya. Ketika seniman enggan menyebut nilai kontrak (karena lebih didorong rasa malu, sungkan dan sebagainya), maka manajerlah yang bisa menjembatani kendala klasik dan menjangkiti kebanyakan seniman itu. Bahkan, pelibatan sponsor atau donatur menjadi tugas sang manajer demi suksesnya proses kreatif sang seniman, meski saya tahu, banyak perusahaan atau institusi lainnya, tak mudah ditembus, meski sekadar ‘berbelas kasihan’. Tak usah muluk-muluk mengejar dana corporate social responsibility segala.

Kembali ke persoalan koreografer yang mengajak saya berbincang, saya hanya menyarankan agar jujur dan berani terbuka kepada pihak yang akan mengundangnya. Misalnya, meminta si pengundang menanggung beberapa komponen biaya seperti transportasi dan konsumsi latihan, transportasi pergi-pulang dengan standar kenyamanan tertentu (sebab seniman harus fit saat pentas), akomodasi, dan tak lupa honor masing-masing artis dan kru yang terlibat.

Kalau tak mau menanggung kebutuhan dasar itu, menurut saya, ya lebih baik tidak usah menerima kontrak untuk berpentas, daripada capek dan menggerutu di belakang. Kecuali, bila memang dasarnya sudah rindu tampil, tergila-gila pada panggung pementasan. (Padahal saya yakin, seniman masih punya harga diri)
from: blontankpoer.blogsome.com

~ oleh cahyani pada Januari 23, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: