Menjual Seni Pertunjukan Tradisi di Tanah Air ke Dunia

Berikut adalah sebuah artikel terkait bisnis seni pertunjukan tradisi di Indonesia dari kompas.com.

SENI pertunjukan tradisi jika dikemas dengan apik akan menjadi sebuah tontotan yang tak kalah menarik dengan pertunjukan modern. Lewat sebuah pertunjukan, seni dan budaya/adat istiadat sebuah daerah yang tadinya tidak diketahui masyarakat luas bisa menjadi konsumsi publik yang asyik dipandang, didengar, dan dinikmati.

Tontonan pun menjadi lebih bervariasi, saat budaya kehidupan di beberapa daerah diangkat dalam sebuah pertunjukan lewat permainan alat musik tradisional, yang dikolaborasikan dengan musik kontemporer.

Pertunjukan seperti inilah yang coba diangkat Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yang bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Solo, dan Institut Seni Indonesia Surakarta, lewat bursa seni pertunjukan Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) V 2009 yang berlangsung tanggal 3-7 Juni 2009 lalu di Solo, Jawa Tengah.

Forum yang merupakan bentuk kegiatan industri kreatif yang bertujuan untuk meningkatkan pemasaran dan promosi seni dan budaya tradisional Indonesia di forum internasional kali ini mengangkat 20 penampil (performer) utama dari daerah Sumatera, Jawa, Maluku, dan Sulawesi, serta tiga grup eksibisi dari Maluku, Jawa Timur, dan Belgia.

Lebih dari 30 penyelenggara seni pertunjukan (presenter/buyers) dari berbagai negara hadir menyaksikan pertunjukan IPAM seperti Australia, Belgia, Finlandia, Perancis, Jerman, Jepang, Singapura, Slovakia, dan Inggris. Hampir semua menyatakan kekaguman dan ketertarikan setelah menyaksikan pertunjukan tersebut.

Beberapa pun langsung memesan (booking) grup seni pertunjukan untuk tampil di negara mereka. Tak hanya sebagai tontonan, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi dan kerjasama antarnegara.

Karena alasan itulah Brisbane Powerhouse Arts (BPA), Australia, langsung memesan pertunjukan Pangkur Brujul oleh Grup Sahita Solo dan pertunjukan Rantau Berbisik oleh Grup Nan Jombang, Padang.

“Ini untuk jembatan komunikasi antara Australia dan Indonesia. Seni adalah jendela hati yang efektif untuk saling memahami. Saya akui, setelah tragedi Bom Bali, orang Australia darn pers setempat lebih banyak mendengar kasus terorisme atau orang Australia yang dipenjara karena narkoba,” ujar Direktur Brisbane Powerhouse Arts, Andrew Ross, saat penutupan IPAM, Sabtu pekan lalu.

Tidak gampang untuk bisa tampil dalam pertunjukan IPAM 2009. Harus melewati seleksi ketat dari tim yang dibentuk Depbudpar. Kepala Subdirektorat Industri Seni Direktorat Kesenian, Depbudpar, Madio Sudarmo, menyebutkan ada 215 grup seni yang melamar untuk mengikuti IPAM V 2009. Namun, kurang dari 80 grup yang memenuhi persyaratan, gara-gara masalah administrasi.

Dari 80-an pelamar diperas menjadi 48 kelompok. Tim penasihat artistik, yang terdiri dari pakar di bidangnya, menentukan kelompok mana yang berhak menjadi penampil dalam IPAM. Akhirnya terpilih 10 penampil utama dan 10 fringe (penampil tambahan), serta tiga penampil tamu (eksibisi). “Semuanya bagus-bagus dan atraktif,” kata Madio.

Setelah sukses dua kali menyelenggarakan IPAM, selanjutnya Kota Solo menjadi penyelenggara tetap IPAM. Wali Kota Solo Joko Widodo menyatakan siap menyukseskan IPAM VI dan seterusnya, sebagai bukti bahwa Kota Solo layak disebut sebagai kota pertunjukan.

~ oleh cahyani pada Februari 4, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: